Sultan Abdul Hamid II: Pemimpin Amanah yang Dikhianati

Sultan Abdul Hamid II (1842-1918)

Sultan Abdul Hamid IIDi mana pemimpin seperti dia untuk umat?” tanya seorang pengguna milis Yahoo Indonesia! Answers, forum berbagi informasi, tempat siapa saja mengajukan pertanyaan dan jawaban. Pertanyaan tersebut ditulis dalam bahasa Inggris, dengan huruf besar semua. Ditulis pada 4 Juni 2010. Him (dia) yang dimaksud oleh si penanya adalah Sultan Abdul Hamid II.

Belum sempat yang lainnya memberikan jawaban, pengelola milis tersebut buru-buru menghapus pertanyaan yang berjudul Untuk Saudaraku Muslim… Semangat Sultan Abdul Hamid II Sehubungan dengan Palestina…? itu.

Pertanyaan ini sudah dihapus. Begitulah kalimat pemberitahuan yang ditulis di samping logo segitiga merah bertanda seru warna putih tersebut. Lho mengapa dihapus? Memang siapa Sultan Abdul Hamid II itu dan apa hubungannya dengan Palestina?

Penjaga Palestina

Sultan, lahir pada hari Rabu, 21 September 1842. Dengan nama lengkap Abdul Hamid Khan II bin Abdul Majid Khan. Ia adalah putra Abdul Majid dari istri keduanya. Ibunya meninggal saat ia berusia 7 tahun.

Sultan menguasai bahasa Turki, Arab, dan Persia. Senang membaca dan bersyair. Pada 41 Agustus 1876 (1293 H), Sultan Abdul Hamid dibaiat sebagai Khalifah di tengah-tengah merosotnya pemahaman kaum Muslim akan Islam.

Kebodohan itu membuat umat tidak tahu lagi mana kawan dan mana lawan. Tidak sedikit yang terkecoh dan bersekutu dengan penjajah termasuk penjajah Zionis Yahudi yang ngebet ingin mencaplok Palestina. Pada 1892 misalnya, sekelompok Yahudi Rusia memohon kepada Sultan untuk tinggal di Palestina.

Permohonan itu dijawab Sultan dengan tegas. “Pemerintah Ustmaniyyah memberitahukan kepada segenap kaum Yahudi yang ingin hijrah ke Turki, bahwa mereka tidak akan diizinkan menetap di Palestina”. Mendengar jawaban seperti itu kaum Yahudi terpukul berat sehingga duta besar Amerika turut campur tangan.

Empat tahun kemudian, konseptor Der Judenstaat (Negera Yahudi) Theodor Hertzl, memberanikan diri menemui Sultan Abdul Hamid sambil meminta izin mendirikan gedung di al Quds, Palestina.

Permohonan itu dijawab sultan “Sesungguhnya Khilafah Utsmaniyyah ini adalah milik kaum Muslim. Mereka tidak akan menyetujui permintaan itu. Sebab itu simpanlah kekayaan kalian itu dalam kantong kalian sendiri.”

Melihat keteguhan Sultan, mereka kemudian melakukan konferensi Basel di Swiss, pada 29-31 Agustus 1897 dalam rangka merumuskan strategi baru menghancurkan Khilafah.
Baca lebih lanjut