Ketika sang Muballigh Sakit

Suatu hari di sebuah pengajian ibu-ibu, sang Muballigh pamit tidak bisa hadir. Dia tidak memberitahu alasannya. Dia sakit dan dirawat di rumah sakit.

Ibu-ibu ternyata mencium sesuatu dan mencari tahu kenapa sang guru tidak hadir di pengajian. Ketemulah jawabannya bahwa sang muballigh lagi sakit. Dia menjalani operasi di rumah sakit.

Biasalah, kehidupan seorang muballigh itu sederhana dan bersahaja. Demikian pula muballigh yang satu ini. Dia memang muballigh yang bisa dibilang sangat sederhana dan sangat ikhlas.

Para ibu kemudian berniat untuk membantu sang guru yang lagi sakit. Mereka bersepakat untuk mengumpulkan uang guna meringankan biaya di rumah sakit bagi sang muballigh.

Uang terkumpul lumayan banyak.

Para ibu kemudian menjalankan sunnah Nabi saw dengan menjenguk “saudaranya” yang sakit. Di rumah sakit, para ibu dengan sedikit basa basi kemudian mengatakan:

“Bapak, kami datang ke sini untuk memberikan amanat para ibu yakni menyerahkan sumbangan untuk kepentingan meringankan biaya bapak di rumah sakit.”

Tentu saja sang muballigh berterima kasih dan merasa bersyukur karena dibantu.

Singkat cerita, sembuhlah sang muballigh.

Tidak berapa lama kemudian, sang muballigh mengundang para ibu ke rumahnya (rumah tempat tinggal yang bukan milik sang muballigh). Para ibu senang mendengar Bapak guru sudah sembuh. Datanglah mereka ke rumah sang muballigh.

Sang Muballigh mengucapkan terima kasih kepada para ibu yang telah membantu biaya selama dirinya dirawat di rumah sakit. Dan alhamdulillah, sekarang dirinya sudah sembuh. Di bagian akhir dari sambutan sang muballigh, ada sesuatu yang mengejutkan. Sang muballigh menyerahkan sebuah amplop yang agak besar.

Tentu saja para ibu kaget. Apa isi amplop itu? Sang muballigh mempersilahkan para ibu untuk membukanya. Ketika dibuka, ibu-ibu lebih kaget lagi. Isinya adalah uang!

Para ibu bertanya-tanya, ada apa dengan uang itu. Kenapa sang muballigh memberi mereka uang. Bapak muballigh itu kemudian menjelaskan bahwa uang itu adalah uang  kelebihan dari sumbangan ibu-ibu untuk berobat di rumah sakit. Uang sumbangan dari ibu-ibu itu lebih dari cukup untuk berobat. Karena akad (kata-kata para ibu) waktu menyerahkan sumbangan adalah untuk biaya berobat dan ternyata masih ada kelebihan maka kelebihan itu dikembalikan.

Beliau adalah Bapak AR Fakhruddin, mantan ketua PP. Muhammadiyah. Rumah tinggal Pak AR sekarang menjadi Kator PP. Muhammadiyah yang baru di Jl. Cik Di Tiro (dekat kampus UGM)

Iklan

Spagheti dan Shalat

Apa hubungannya Shalat dan Spagheti? Temukan jawabannya di sini. Unik, menarik, dan semoga bermanfaat.

“Ustadz, boleh saya menanyakan dua hal?
Pertama ,mengapa saya tidak bisa khusyuk dalam shalat?
Kedua. Mengapa tidak ada bekas terasa di dalam shalat saya?”

Menanggapi pertanyaan itu, guru saya malah bertanya,
“Kamu suka makan Spagheti kan?”
“Iya. Itu salah satu makanan favorite saya, Stad”
“Apa yang terjadi ketika kamu menikmati Spagheti?” tanya guru saya kembali.
“hmm, saya makan dengan perlahan demi perlahan agar bisa merasakan spagheti yang tercampur dengan bumbu dan saus yang lezat”
“Apakah pernah walaupun disekitarmu berisik namun kamu bisa merasakan nikmatnya spagheti?”

Pertanyaan yang membingungkan batin saya.

“Pernah ustadz. Mungkin karena saking menikmati lezatnya spagheti saya tidak menghiraukannya”
“Baik. Pertanyaan mu tentang shalat telah terjawab dengan spagheti itu.

Pertama, Seperti halnya makan spagheti, akan sangat berbeda kenikmatannya ketika dirimu terburu-buru memakannya dibandingkan dirimu memakannya perlahan. Demikian juga shalat . Dimana kamu bisa menikmati shalat ketika dirimu melakukan shalat secara perlahan / tuma’ninah serta menikmati dan merenungi setiap gerakan shalat yang dirimu lakukan.

Ketika dirimu merasakan nikmatnya setiap gerakan shalat maka disitulah dirimu merasakan bekas dari shalat. Bagaimana mungkin dirimu merasakan bekas nikmatnya shalat jika dirimu shalat dengan tergesa-gesa. Bahkan dirimu lupa dengan surat yang kamu baca atau lupa sudah rakaat berapa, karena shalatmu hanya mengandalkan fikiran bawah sadarmu yang bekerja lantaran memandang sebagai rutinitas belaka.

Kedua untuk kekhusyukan shalat sepertihalnya ketika dirimu mampu menikmati lezatnya spagheti bahkan ditempat ramai sekalipun. Karena khusyuknya shalat sangat tergantung bagaimana dirimu bisa menikmati setiap langkah dan tahapan dari shalat itu sendiri.”

Mendengar jawaban Sang Guru, saya menyadari ternyata masih ada yang perlu disempurnakan kembali dari shalat saya selama ini. Tak disangka dari Spagheti , saya bisa mendapatkan hikmah tentang Shalat, yaitu mendapatkan kekhusyukan dengan menikmati setiap tahapan baik gerakan maupun bacaan.

Semoga tausiah guru saya yang sederhana ini berguna untuk sahabat semua.

dikutip dari tulisan :
Iwan ketan
Authorized Hypnosis Instructor

Polemik Rutin Menjelang Idul Fitri, 1 Syawal 1430H

Tak terasa, Ramadhan tahun ini akan segera berlalu. Bulan Syawal sudah di depan mata. Mudah2an amalan kita di bulan Ramadhan ini mendapatkan pahala yang berlimpah dari Allah SWT. Bagi yg merasa amalannya kurang, segera lengkapi dengan zakat fitrah (yg merasa amalnya sdh cukup baik juga tetep wajib lho..), karena zakat fitrah dapat memperbaiki kekurangan amalan Puasa Ramadhan (kata pak Ustadz).

Yang ingin saya bahas di sini, adalah polemik tahunan yang selalu muncul menjelang idul fitri. Kapan sesungguhnya tanggal 1 Syawal?

Ada 2 metode yang umum dipakai di Indonesia, yaitu ru’yatul hilal (melihat bulan) dan hisab (perhitungan). Kalangan Muhammadiyah dan PERSIS menggunakan metode hisab, NU menggunakan metode ru’yah, sedangkan Pemerintah (Depag) biasanya melihat kalender yang sdh kadung tercetak (hehehe.. Belum pernah kayaknya Menteri Agama menetapkan Idul Fitri yang berbeda dengan kalender yg sdh tercetak).
Apa alasan masing2 metode?

Baca lebih lanjut

Belajar Gratis Bahasa Arab

Sekali lagi, saya hadirkan yang gratis-gratis.

Belajar bahasa Arab dan belajar agama Islam, bagaikan 2 sisi keping mata uang. Pas nggak, ya, perumpamaan ini? Tapi yg jelas, kalau mau belajar agama Islam dengan lebih afdhol, belajarlah bahasa Arab. Dengan belajar bahasa Arab, Anda bisa : memahami Al-Qur’an dan Hadits dengan lebih baik, memahami keindahan tata bahasa n kosa kata Al-Qur’an, mampu memahami kitab-kitab ulama Islam, de el el. Mantep to, Enak to. Hayo, mau nggak?

Sayangnya, bagi kebanyakan umat Islam di Indonesia, bahasa Arab terbilang bahasa yang cukup sulit dipelajari (terutamaq secara parttime), kecuali yg emang niat nyantri di pesantren.

Nah, ini saya bawakan link-link BERBAHASA INDONESIA, yang mengajari kita bahasa Arab, pada level pemula. Silakan menikmati.

http://www.wahib-dr.com/Arabic-Learning/

http://luluvikar.wordpress.com/2005/10/27/dasar-dasar-ilmu-nahwu/

http://badar.muslim.or.id/

Pacaran

Catatan : Artikel ini saya pindahkan dari blog lama yg di friendster, dengan judul yg sama. Sebnarnya artikel ini sudah lama sekali saya dapatkan, sejak tahun 2000 yang lalu (kl nggak salah), namun tetap saja enak dibaca dan aktual.

Monggo, sugeng maos, sampun kesupen maringi komentar.. Pls read it and leave your comments.. Douzo yonde kudasai, sorekara kansou wo kaite kudasai..

===================================================================

Cinta itu membuat sesuatu tampak lebih indah. Kenyataannya tidak selamanya, setidak-tidaknya yang terjadi pada diriku sekali ini. Cinta malah membuatku menjadi gusar, marah, sedih .. ah, yang pahit-pahit-lah! Segala sesuatu yang seharusnya tampak berbunga-bunga, kini malahan menjadi kelabu.
Ini terjadi semenjak aku mengenal seorang gadis teman kuliahku. Orangnya sederhana saja. Hanya saja, dari pengamatanku selama ini, aku melihat ia memiliki keistimewaan dan nilai lebih dibandingkan wanita lain yang pernah kutemui. Wajahnya yang teduh, cara berbicara yang lembut dan berwibawa, serta kepribadiannya yang menawan membuat aku terpana. Aku benar-benar mengaguminya dan kurasa aku telah jatuh cinta padanya.
Pernah sekali kucoba untuk berbicara serius dengan wanita idamanku itu. Tapi, setiap kali aku ingin menyusun kata-kata, di situ pula pikiranku menjadi buntu. Dan tampaknya ia memahami kesulitanku tadi. Akh… entahlah, aku tak tahu apa yang harus kuperbuat. Terkadang kucoba untuk melupakannya, namun semakin kucoba melupakannya aku malah semakin mengingatnya.
Sebenarnya bukan jatuh cinta yang membuatku jadi begitu. Sudah berulangkali aku mengalaminya dan tak satu pun yang membuatku gelisah. Tapi semuanya disebabkan oleh prinsip-prinsip yang selama ini aku pegang. Cinta tak selamanya harus memiliki. Cinta itu memberi tanpa harap menerima. Cinta itu hanya dapat dirasakan dan tak dapat dinyatakan. Semua itu adalah sebagian prinsip yang selama ini aku tegakkan setiap kali orang frustasi bertanya kepadaku tentang cinta. Tapi, ketika aku frustasi kini, tak satupun prinsip-prinsip itu dapat aku terima untuk mengobati hatiku yang malang ini. Aku ingin menyatakan cintaku. Aku ingin memilihnya sebagai orang yang selalu mendampingiku di setiap suka dan duka.
“Pacaran itu dosa, lho!” ujar seorang teman yang kupercayai kredibilitas keagamaannya. Ucapan itu membuatku semakin gundah. Di satu sisi aku ingin memprotesnya, tapi di sisi lain aku sangat cinta kepada Islam yang selama ini aku perjuangkan, “Bukankah Allah-lah yang sepatutnya kita cintai?” ujar temanku itu mengulangi perkataan yang dulu pernah aku lontarkan di setiap diskusi tentang iman. Itu membuatku malu pada diriku sendiri dan benci pada cinta ini.
Tak ada pilihan lain. Aku harus menemui Pak Kiai untuk menemukan jawaban yang tak kunjung kudapat. Masalah ini tak boleh dibiarkan berlarut-larut.
Kulangkahkan kakiku melintasi jalan setapak yang telah setahun tak pernah kuinjak. Sunyinya jalan itu membuat aku terus memikirkan yang telah terjadi. Setiap belokan membuatku mendesah seraya menyesali diri. Tak adakah hal lain yang dapat kupikirkan selain cinta dan cinta ?
Sebenarnya aku sangat ngeri meminta nasihat dari Pak Kiai yang setiap perkataannya selalu membuat telingaku memerah. Kata-katanya tak pernah lembut, seringkali kasar dan tidak sopan. Tak peduli apakah yang datang kepadanya seorang pejabat, bandit, atau orang yang sedang susah. Ia selalu memuntahkan kata-kata dengan intonasi, kosakata, volume suara, dan koefisien kekasaran yang tak berbeda. Baginya semua manusia sama. Dia pun tak sungkan untuk diprotes meski oleh orang bergelimang dosa sekalipun. Mungkin hal itulah yang menyebabkan aku selalu menaruh kepercayaan yang besar akan keikhlasannya membimbing umat. Apalagi setiap kali aku berbicara kepadanya, selalu ada saja hal-hal baru yang dapat aku bawa pulang.
“Mau apa kau ke sini ?” tanya Pak Kiai memulai kebiasaannya: kasar.
“Aku sedang jatuh cinta, Pak Kiai!” jawabku langsung ke pokok permasalahan sebab aku tahu Pak Kiai tak suka basa-basi.
“Baguslah kalau begitu. Itu tandanya kau masih manusia.”
“Tapi, Pak Kiai, aku jatuh cinta pada seorang wanita. Bagaimana itu Pak? Apa yang harus kulakukan?”
“Bayangkanlah kalau kau jatuh cinta pada seorang pria. Kenapa kau merasa gelisah sekali dengan mencintai seorang wanita? Apakah ia wanita yang nggak beres?”
“Oh, tidak! Dia wanita baik-baik. Baiiik sekali. Dia menjalankan agamanya dengan sepenuh hati. Dia cukup membatasi pergaulannya dengan setiap lelaki. Yah, itulah yang mungkin menjadi masalah padaku. Coba kalau dia itu wanita yang nggak beres, tentu masalahnya tak serumit ini.”
“Kau bodoh. Seharusnya kau bahagia mencintai wanita seperti itu. Coba bayangkan kalau kau mencintai wanita slebor. Hatimu akan terus sibuk memikirkan setiap tingkah lakunya. Kau akan merasakan cemburu, sakit hati, membenci, dendam, bisa-bisa kau gila. Pikiranmu akan terus tersita dengan wanita seperti itu. Kapan lagi kau mau ingat Allah? Bukankah mencintai wanita yang sholeh membuatmu sadar untuk bertindak seperti orang yang kau cintai?”
“Benar, Pak! Lalu, apakah aku boleh berpacaran dengannya? Aku merasa tidak puas hanya dengan berteman dengannya. Perlu Pak Kiai ketahui bahwa banyak orang mengatakan bahwa pacaran itu haram karena dengan pacaran hati kita akan sibuk mengingat kekasih kita sehingga kita lalai dari mengingat Allah. Bagaimana pula kalau dengan pacaran malah membuat kita semakin ingat dengan Allah?”
Pak Kiai diam sejenak. Dahinya yang hitam mengkerut seolah memikirkan sesuatu yang sangat berat. Matanya sesekali memandang ke arahku dengan tajam.
“Maaf Nak! Aku sudah tua. Banyak sekali hal-hal yang sudah aku lupakan. Tolong kau jelaskan kepadaku apa yang kau maksud dengan pacaran. Setahuku, kata itu belum pernah aku jumpai di kitab fikih manapun sehingga dapat ditentukan halal haramnya. Sudah kuingat-ingat pula segala ilmu tasawuf, juga kata itu tak kutemukan di sana. Berikanlah gambaran kepadaku tentang pacaran agar aku dapat menentukan hukumnya!”
“Begini, Pak! Pacaran itu diawali dengan suatu perjanjian untuk saling mengenal satu sama lainnya, terus dari kenalan tadi diharapkan masing-masing pihak dapat saling memahami pasangannya, terus …”, tiba-tiba saja aku merasa buntu. Aku coba mencari penjelasan yang tepat tentang pacaran, tapi aku tak tahu. Ternyata, pacaran yang selama ini aku inginkan tak pernah kutahu apa maknanya.
Melihat yang ditanya kebingungan, Pak Kiai coba membantu, “Apa saja yang dilakukan orang ketika pacaran?”
“Banyak, Pak! Ada yang ngobrol-ngobrol kadang tak tentu arah, sering-sering menelpon pacarnya, ada yang suka pergi berdua-duaan dan … yah begitulah. Pak Kiai saya kira juga tahu. Tapi, tunggu dulu Pak Kiai, yang akan kulakukan bukan seperti itu. Aku akan membicarakan dengannya masalah agama, saling menjaga diri dengan saling mengingatkan bila berbuat khilaf, pokoknya yang Islami-lah Pak,” sahutku.
“Ooh, begitu. Lalu apa bedanya dengan berteman? Kau kira kau tidak punya kewajiban seperti itu terhadap seorang teman? Kau kira kepada teman kau boleh berlaku tak Islami?
Coba aku tanyakan kepadamu, apakah kekuatan perjanjian itu sehingga tak dapat memisahkan pemilikan satu dengan lainnya? Apakah kau mengatasnamakan Allah dalam perjanjian tadi? Mengapa tak sekalian nikah saja? Khan dengan nikah kau bahkan lebih leluasa lagi. Tak seorang laki-laki pun berhak memiliki seorang wanita tanpa melalui nikah. Bahkan ayahnya sendiri yang membesarkan dan memberi makan serta pendidikan kepadanya. Sampai-sampai si ayah pun tak berhak memaksa anak wanitanya menikahi pria yang bukan pilihan sang anak. Itulah yang Islami!” ucap Pak Kiai dengan cepat bagai rentetan peluru.
“Lalu apa yang sudah kau berikan padanya sampai-sampai kau ingin memilikinya? Lebih baik kau tunjukkan rasa cintamu dengan tanggung jawab sebagai seorang sahabat yang Islami. Biarkan cinta bersemi dalam hatimu karena itu anugerah Allah yang harus kau syukuri, bukan ingkari. Cinta itu amanat Allah, maka jangan kau khianati. Pacaran yang kau maksud sebenarnya hanya kata tanpa makna yang akan menjerumuskan orang pada penghalalan zina dalam dirinya. Kau mungkin sakit hati mendengar perkataanku ini, tapi apa artinya menyenangkan hatimu kalau yang kusampaikan itu akan menjerumuskanmu dan membuatmu menyesal kelak.”
Aku terdiam tak tahu harus berkata apa. Kurasakan lidahku kelu untuk mengucapkan sesuatu.
“Sudahlah, kalau kau ingin pacaran juga, silakan saja, aku tak berhak memaksa. Aku hanya ingin kau berpikiran dewasa dan tidak menghabiskan waktumu untuk sesuatu yang kau sendiri tak tahu manfaatnya.”

Sumber : Milis Keluarga Islami

Situs FFI (Faith Freedom International)

Pindahan dari http://azizahmad.wordpress.com .. tanggal 6 Juni 2007

Tadi sempat lihat2 ke website http://www.indonesia.faithfreedom.org – Faith Freedom International (FFI).

Membayangkan namanya, semula saya berharap akan menemukan diskusi-diskusi ilmiah yang sehat, dengan saling beradu argumen. Bukankah diskusi dilakukan dalam rangka mencari kebenaran? Artinya kedua pihak bersedia menerima argumen2 yang dikemukakan lawannya jika ternyata argumen itu logis, atau mematahkan argumen tersebut dengan ilmiah.

Harapan saya sama sekali patah. Sama sekali nggak saya temukan diskusi ilmiah, melainkan debat kusir yang kampungan dan jorok.

Juga, semestinya diskusi faith-freedom dilakukan dengan berimbang, meninggalkan prasangka2, stigma2, maupun stereotip2 kelompok faith tertentu. Tapi yang saya temukan ternyata HANYA anti-Islam. Mestinya alamat URL-nya diganti http://www.anti-islam.org atau yang lain yang lebih pas dengan isinya. Vulgar banget kebencian yang mereka tampakkan kepada Islam.

Kalo saya sendiri males nanggapi debat seperti itu. Capek, buang2 tenaga, waktu, dan pikiran. Toh yang mereka cari bukan kebenaran, melainkan hanya sekedar melampiaskan kekesalan dan kebencian mereka pada Islam. Mungkin mereka pernah disakiti oleh tetangganya atau kerabatnya yang Islam, jadinya kebawa2 jadi benci Islam.

Jauh lebih enak kalo diskusi dengan orang orientalis – barat. Ilmu mereka tentang Islam luas, namun kebanyakan mereka masih MAU dan MAMPU berfikir. Kalo pertanyaan2 dan argumen2 mereka bisa kita jawab (meskipun itu sangat sulit, karena kaum orientalis biasanya benar2 paham tentang Islam), mereka akan mengakui kebenaran.

Mengikuti debat ini, diam-diam, saya jadi merinding ngeri. Di Indonesia yang mereka minoritas saja, mereka berani berbuat seperti itu. Apalagi kalo mereka mayoritas?? Mungkinkah bakal terjadi tragedi inkuisisi spanyol versi Indonesia? Di jaman modern begini?

NaudzubiLlah.