Spagheti dan Shalat

Apa hubungannya Shalat dan Spagheti? Temukan jawabannya di sini. Unik, menarik, dan semoga bermanfaat.

“Ustadz, boleh saya menanyakan dua hal?
Pertama ,mengapa saya tidak bisa khusyuk dalam shalat?
Kedua. Mengapa tidak ada bekas terasa di dalam shalat saya?”

Menanggapi pertanyaan itu, guru saya malah bertanya,
“Kamu suka makan Spagheti kan?”
“Iya. Itu salah satu makanan favorite saya, Stad”
“Apa yang terjadi ketika kamu menikmati Spagheti?” tanya guru saya kembali.
“hmm, saya makan dengan perlahan demi perlahan agar bisa merasakan spagheti yang tercampur dengan bumbu dan saus yang lezat”
“Apakah pernah walaupun disekitarmu berisik namun kamu bisa merasakan nikmatnya spagheti?”

Pertanyaan yang membingungkan batin saya.

“Pernah ustadz. Mungkin karena saking menikmati lezatnya spagheti saya tidak menghiraukannya”
“Baik. Pertanyaan mu tentang shalat telah terjawab dengan spagheti itu.

Pertama, Seperti halnya makan spagheti, akan sangat berbeda kenikmatannya ketika dirimu terburu-buru memakannya dibandingkan dirimu memakannya perlahan. Demikian juga shalat . Dimana kamu bisa menikmati shalat ketika dirimu melakukan shalat secara perlahan / tuma’ninah serta menikmati dan merenungi setiap gerakan shalat yang dirimu lakukan.

Ketika dirimu merasakan nikmatnya setiap gerakan shalat maka disitulah dirimu merasakan bekas dari shalat. Bagaimana mungkin dirimu merasakan bekas nikmatnya shalat jika dirimu shalat dengan tergesa-gesa. Bahkan dirimu lupa dengan surat yang kamu baca atau lupa sudah rakaat berapa, karena shalatmu hanya mengandalkan fikiran bawah sadarmu yang bekerja lantaran memandang sebagai rutinitas belaka.

Kedua untuk kekhusyukan shalat sepertihalnya ketika dirimu mampu menikmati lezatnya spagheti bahkan ditempat ramai sekalipun. Karena khusyuknya shalat sangat tergantung bagaimana dirimu bisa menikmati setiap langkah dan tahapan dari shalat itu sendiri.”

Mendengar jawaban Sang Guru, saya menyadari ternyata masih ada yang perlu disempurnakan kembali dari shalat saya selama ini. Tak disangka dari Spagheti , saya bisa mendapatkan hikmah tentang Shalat, yaitu mendapatkan kekhusyukan dengan menikmati setiap tahapan baik gerakan maupun bacaan.

Semoga tausiah guru saya yang sederhana ini berguna untuk sahabat semua.

dikutip dari tulisan :
Iwan ketan
Authorized Hypnosis Instructor

Iklan

Sholat Pakai Kaos

Seringkali saya melihat laki-laki sholat pakai kaos, baik T-Shirt atau Kaos Polo. Sebenarnya saya juga tidak berpendapat bahwa sholat mesti pakai jubah, namun cukuplah menutup aurat dan sopan.

Masalahnya, kalau pakai kaos seringkali tidak bisa menutup aurat. Pada saat berdiri, mungkin masih menutup aurat. Tapi saat lagi ruku’ atau (terutama saat) sujud, pantatnya (maaf) kelihatan.

Kurang lebih 4 minggu yang lalu, saya Jum’atan di masjid UII Jl Cik Di Tiro. Persis di depan saya seorang bapak-bapak yang sudah paruh baya, sholat jum’at pakai kaos. Sayangnya, kaos tidak dimasukkan, dan juga tidak mengenakan kaos dalam. Pas sujud, seperti yg sudah saya perkirakan, sebagian anggota tubuhnya bagian belakangnya kelihatan. Kesalahan yg sepele, namun kok rasanya cukup fatal.

Ingin saya menegurnya. Hal itu membuat saya kurang khusyu saat sholat. Namun selesai sholat, saya menunggu2 kesempatan, eh.. ternyata dzikirnya lama betul. Ya sudah, karena saya sudah selesai berdzikir, saya langsung pergi dari situ tanpa sempat memberitahunya.

Akhirnya, kesempatan yg bisa saya peroleh adalah lewat blog ini. Saudara2ku seiman, kalau lagi sholat dan terpaksa pakai kaos, tolong masukkan ujung kaos ke celana panjang/ sarung, supaya nggak mudah ketarik waktu sujud. Atau paling tidak, kaos dalamnya yg dimasukkan ke celana panjang/ sarung.