Insting Pendengaran Seorang Pemimpin

Suatu ketika Khalifah Umar bin Khattab berdiri di mimbar seraya berkata, “Wahai manusia, dengarkan dan taatilah apa yang aku katakan.” Tiba-tiba Salman al-Farisi, salah seorang sahabat yang berasal dari Persia, berdiri dan berbicara dengan lantang, “Tidak ada lagi kewajiban bagi kami untuk mendengar dan taat kepada Anda.”

Mendengar pernyataan itu, Umar bin Khattab, seorang pemimpin yang terkenal dengan ketegasannya, menerima protes keras dari Salman al-Farisi yang mantan budak. Umar tidak merasa bahwa kritikan yang disampaikan Salman akan membuatnya terhina. Karena itu, ia menerimanya dengan lapang dada dan mencari akar masalah yang membuat perintahnya tidak ditaati.

“Wahai Salman, apa yang membuatmu tak mau mendengar dan tak mau taat?” Salman pun menjawab, “Kami tak akan mendengar dan tak akan taat, sehingga Engkau menjelaskan bagaimana Engkau mendapatkan bagian dua potong kain, sementara kami semua masing-masing hanya mendapatkan satu potong saja?!”

Umar pun jadi mengerti persoalannya. Dengan tenang dan bijak, Umar memanggil putranya, Abdullah bin Umar, untuk menjelaskan perihal pakaian yang dipakainya.

Abdullah menjelaskan, bahwa pakaian yang dipakai oleh ayahnya, salah satunya adalah milikinya yang ia berikan kepada ayahnya. Hal itu dilakukannya, karena badan Umar yang tinggi besar, sehingga bila hanya satu potong kain, maka hal itu tidak cukup untuk dibuatkan pakaian.

Setelah mendengar penjelasan itu, Salman pun lalu berkata, “Kalau demikian, silakan keluarkan perintah, kami siap mendengar dan siap menaatinya.”

Di lain kesempatan, Umar bin Khattab berkhutbah selepas shalat berjamaah. Dalam khutbahnya itu, Umar membuat batasan mahar (maskawin). Tiba-tiba seorang perempuan tua berdiri menentang intruksi Umar itu.

“Atas dasar apa, Anda membatasi mahar yang berhak diterima kaum perempuan, sedangkan Allah tidak membatasinya, bahkan berfirman, ‘Dan jika kamu ingin mengganti istrimu dengan istri yang lain, sedangkan kamu telah memberikan kepada seseorang di antara mereka harta yang banyak (sebagai mahar), maka janganlah kamu mengambil kembali daripadanya barang sedikit pun. Apakah kamu akan mengambilnya kembali dengan jalan tuduhan yang dusta dan dengan (menanggung) dosa yang nyata’?” (An-Nisa’ [4]: 20).

Mendengar protes perempuan tua itu, Umar terdiam sejenak, lalu segera berkata, “Umar telah salah dan perempuan itu yang benar.” Umar pun mencabut intruksinya.

Itulah sosok Umar bin Khattab. Pemimpin yang dikenal sangat keras, tegas, dan kuat. Namun, dengan lapang dada, dia sangat terbuka dan lembut, sama sekali tidak antikritik dan tidak marah ketika diprotes. Ketika dia melakukan kesalahan, dengan cepat ia memperbaikinya, kendati protes yang disampaikan dikemukakan di hadapan umum. Ia tidak malu untuk mengakui kesalahannya bila terbukti salah. Alangkah menakjubkannya keteladanan Umar.

Oleh: Muhammad Syamlan
Sumber: Republika

Iklan

Motor akan Dilarang Pakai Premium?

Rencana Kementrian ESDM membatasi pemakaian premium untuk motor terus menuai kontroversi. Pengendara motor akan dipaksa membeli pertamax. Banyak pihak yang menolak. Tapi the show must go on. Rencananya, pembatasan ini akan mulai diterapkan pada triwulan III tahun ini.
Rombongan MotorAlasannya klasik. Penghematan subsidi BBM. Alasan yang sudah berkali2 diterapkan secara serampangan di negara ini. Yang aneh lagi, subsidi BBM bakal dialihkan ke kendaraan mobil pribadi “jenis tertentu”.
Sepertinya pemerintah memang sudah tidak berpihak pada rakyat kecil. Pengguna motor jelas dari kalangan menengah ke bawah. Sementara pemilik mobil pribadi dari kalangan menengah ke atas. Terus siapa yang bakal menikmati subsidi BBM? Berapa sih, sebenarnya subsidi untuk BBM? Bandingkan dengan kerugian negara akibat kebijakan pemutihan para pengemplang BLBI (baca: koruptor). Seringkali kebijakan pemerintah hanya menguntungkan para pemilik modal dan pemilik kekuasaan, dengan mengorbankan rakyat kecil.
Isu Neolib yang dahulu pernah disematkan pada Pak Wapres Budiono tampaknya menunjukkan pembenarannya. Kita jadi tahu bagaimana cara berfikir pemerintah.
Mudah2an lain kali kita tidak lagi salah memilih pemimpin (perasaan dari dulu pemimpin kita nggak ada yg beres… ya nggak sob?)

Sebaik-baik pemimpin adalah mereka mencintai rakyatnya dan rakyat mencintai mereka. Seburuk-buruk pemimpin adalah mereka membenci rakyatnya dan rakyat membenci mereka.