Kisah Burung yang Sehat & Burung yang Cacat

Syaqiiq al-Balkhi adalah teman Ibrahim bin Adham yang dikenal ahli ibadah, zuhud dan tinggi tawakalnya kepada Allah. Hingga pernah sampai pada tataran enggan untuk bekerja.

Penasaran dengan keadaan temannya, Ibrahim bin Adham bertanya, “Apa sebenamya yang menyebabkan Anda bisa seperti ini?”

Syaqiiq menjawab, “Ketika saya sedang dalam perjalanan di padang yang tandus, saya melihat seekor burung yang patah kedua sayapnya. Lalu saya berkata dalam hati, aku ingin tahu, dari mana burung itu mendapatkan rizki.

Maka aku duduk memperhatikannya dari jarak yang dekat. Tiba-tiba datanglah seekor burung yang membawa makanan di paruhnya. Burung itu mendekatkan makanan ke paruh burung yang patah kedua sayapnya untuk menyuapinya.

Maka saya berkata dalam hati, “Dzat yang mengilhami burung sehat untuk menyantuni burung yang patah kedua sayapnya di tempat yang sepi ini pastilah berkuasa untuk memberiku rejeki di manapun aku berada.”

Maka sejak itu, aku putuskan untuk berhenti bekerja dan aku menyibukkan diriku dengan ibadah kepada Allah.

Mendengar penuturan Syaqiiq tersebut Ibrahim berkata, “Wahai Syaqiiq, mengapa kamu serupakan dirimu dengan burung yang cacat itu? Mengapa Anda tidak berusaha menjadi burung sehat yang memberi makan burung yang sakit itu? Bukankah itu lebih utama?

Bukankah Nabi bersabda, “Tangan di atas lebih baik daripada tangan di bawah?”

Sudah selayaknya bagi seorang mukmin memilih derajat yang paling tinggi dalam segala urusannya, sehingga dia bisa mencapai derajat orang yang berbakti”

Syaqiiq tersentak dengan pernyataan Ibrahim dan ia menyadari kekeliruannya dalam mengambil pelajaran. Serta merta diraihnya tangan Ibrahim dan dia cium tangan itu sambil berkata, “Sungguh. Anda adalah ustadzku, wahai Abu Ishaq (Ibrahim).”

(Tarikh Dimasyqi, Ibnu Asakir)

Sumber : ar-risalah No. 112 / Vol. X / 04 Syawal – Dzhulqa’dah 1431 H / Oktober 2010

Semoga bermanfaat..

Iklan

Warisan Islam dalam Ilmu Anatomi

Pengobatan IslamIlmuwan ternama al-Ghazali pernah berujar, pelajari anatomi secara mendalam, manusia akan mengetahui fungsi seluruh organ tubuh dan struktur tubuh. Ujaran al-Ghazali ini seakan menjadi langkah awal ilmuwan Muslim mendalami anatomi tubuh, atau banyak kalangan menyebutnya pula sebagai ilmu urai tubuh.

Minat akan bidang ini tumbuh pesat hingga menjelma sebagai sebuah spesialisasi dalam kedokteran Muslim. Lewat The Revival of the Religious Science, alGhazali tak hanya mengurai seluk-beluk aspek pengobatan. Ia memaparkan pula bahwa telah berabad-abad lamanya para dokter Muslim menguasai pengetahuan tentang anatomi dan fisiologi.

Termasuk kaitan kedua ilmu tersebut dengan ilmu bedah. Al-Ghazali menjelaskan, tanpa mengetahui struktur anatomi, sulit melakukan operasi pembedahan. Selama ini, ia dikenal sebagai sosok yang menguasai berbagai disiplin ilmu. Di bidang bedah dan anatomi, keahliannya sangat disegani.

Baca lebih lanjut

Apakah Islam Liberal Memiliki Ushul Fiqih?

Sekedar copas tulisan Ustadz Siddiq al-Jawi. Sumber ada di situs : http://www.khilafah1924.org/index.php?option=com_content&task=view&id=76&Itemid=47

Bagi yg merasa seideologi dengan ISLIB, silakan dikomentari. Yg setuju dg tulisan ini, juga silakan komentar 🙂

Cek selengkapnya bro..

USUL FIQH ISLAM LIBERAL?

Sunday, 04 September 2005
oleh M. Shiddiq al-Jawi

Rencana asal dari Majalah al-Wa’ei, edisi 56. Disunting dan dikembang kembali beberapa bahagian oleh Mohd Jakfar bin Hj Embek, Ketua Jabatan Dakwah, Latihan & Pembangunan Organisasi PERGAS. Akhir-akhir ini wujud semacam keghairahan dikalangan cerdik pandai, pengkaji-pengkaji badan “think thank” dan pembuat polisi samada dari kalangan Islam maupun bukan Islam untuk membuka semula dialog keislaman atas nama wacana ilmiah (intellectual discourse) atau ijtihad intelektual.

Dari sudut positifnya dialog keIslaman di era pos-911, membuka banyak ruang interaksi di media-media cetak seperti akhbar-akhbar utama, majalah-majalah antarabangsa dan juga wacana-wacana ilmiah di pusat-pusat pemikir (think thank) dan pengajian tinggi. Tetapi dalam masa yang sama dari sudut negatifnya pula membuka semacam kecelaruan berfikir para pembentang wacana disamping meruntuh asas-asas metodologi ilmiah para ‘ulama Islam.

Kedudukan dan status kerjaya orang yang diundang bercakap seolah-olah menjadi kekebalan kebenaran apa yang disampaikan daripada nilai kebenaran ilmiah itu sendiri. Wujud semacam kecelaruan semantik pada penggunaan istilah “ijtihad” menyamakan nya dengan pendapat rasional yang tiada bertepi lalu meruntuh prinsip asas metodologi ilmiah Islam. Ijtihad para ulama Islam mempunyai asas-asas sandaran metodologi ilmiah (usul) yang dibenarkan, berlainan dari pandangan bebas sesetengah pemikir yang asas bingkai mindanya dari falsafah kebebasan manusia atau hermeneutika.

Imam alGhazali menyentuh hal ini dalam bukunya Tahafut alFalasifah (Kerancuan Pemikiran Para Falsafah). Begitu juga disahkan oleh pemikir barat abad ini yang telah menganut Islam, Roger Garudy dalam bukunya The Balance Sheet of Western Philosophy. Dari sudut sejarah aliran pemikiran liberal (rasionalis) ia bukan baru, bahkan telah wujud sejak awal dari zaman Imam alGhazali (450H – 1059H). Malah pada zaman Imam Abu Hanifah (80H – 150H) lagi, beliau pernah berdebat dengan golongan rasionalis, begitu juga dengan imam-imam ‘Asyari dan alMaturidi hingga lahirnya ilmu kalam.

Baca lebih lanjut

Merayakan Idul Fitri Bersama Nabi

Idul Fitri bukan sekadar hari raya, tapi di dalamnya ada tatacaranya.

Allah SWT telah mensyariatkan dua hari raya bagi umat Islam setiap tahun. Masing-masing jatuh setelah pelaksanaan ibadah yang agung, yaitu puasa Ramadhan untuk Idul Fitri, dan haji di Baitullah untuk Idul Adha. Hari raya ini merupakan hari kegembiraan bagi umat Islam di seluruh penjuru dunia.

Ketika matahari tenggelam di malam Idul Fitri, Rasul SAW mulai mengumandangkan takbir, untuk melaksanakan perintah Allah SWT: “Sempurnakanlah bilangan (bulan) itu, serta agungkanlah asma Allah sesuai dengan apa yang Dia tunjukkan kepada kalian agar kalian bisa bersyukur (kepada-Nya).” (TQS al-Baqarah [02]: 185). Dalam kitab as-Sunan al-Kubra, karya al-Baihaqi, dituturkan bahwa takbir yang dikumandangkan Nabi itu berbunyi, “Allahu akbar, Allahu akbar, Allahu akbar, Lailaha Ill-Llahu wal-Lahu akbar, Allahu akbar wa li-Llahi al-hamd.” Takbir ini dikumandangkan dengan suara keras hingga esok harinya, ketika imam berdiri untuk shalat.

Di pagi hari, sebelum berangkat ke tempat shalat Idul Fitri, Nabi SAW mandi sunnah, sebagaimana tatacara mandi junub, untuk membersihkan seluruh tubuh baginda SAW. Baginda pun memakai pengharum untuk mengharumkan tubuh mulianya. Setelah itu, baginda pun mengenakan baju yang paling bagus, berdandan dan mengoleskan minyak wangi ke pakaian baginda sehingga yang tercium adalah bau harum. Menurut Ibn Qayyim, baginda SAW mempunyai baju khusus yang baginda kenakan di hari raya dan hari Jumat.

Setelah itu, Nabi pun sarapan pagi terlebih dahulu, baru setelah itu keluar menuju tempat shalat Idul Fitri. Anas bin Malik –radhiya-Llahu ‘anhu—menuturkan, bahwa yang dimakan baginda SAW sebelum berangkat ke tempat shalat Idul Fitri adalah beberapa butir kurma. Baginda pun memakannya dalam hitungan ganjil (HR. Bukhari). Satu butir, tiga, lima, tujuh atau hitungan ganjil lainnya..

Sebelum berangkat ke tempat shalat Idul Fitri, baginda memerintahkan dikeluarkannya zakat Fitrah. Setelah itu, Nabi berangkat ke tempat shalat Idul Fitri, dengan berjalan kaki sembari membaca takbir, tahlil dan tahmid untuk mensyukuri nikmat yang diberikan oleh Allah SWT, yang baginda baca dengan suara keras sepanjang perjalanan dari rumah baginda hingga ke tempat shalat Id. Tempat yang biasa digunakan oleh Nabi saw. untuk mengerjakan shalat Id itu berada di luar masjid Nabawi, letaknya kira-kira 200 m dari Babus Salam, Masjid Nabawi. Kini di tempat itu, didirikan bangunan masjid, yang diberi nama Masjid Ghamamah.

Baginda pernah mengirim surat kepada Amru bin Hazm agar mengakhirkan pelaksanaan shalat Idul Fitri dan menyegerakan pelaksanaan shalat Idul Adha. Ini untuk memberi kesempatan kepada kaum Muslim yang hendak mengeluarkan zakat fitrah agar bisa menunaikannya sebelum imam memulai shalatnya (Ibn Qudamah, al-Mughni, 412).

Baginda SAW pun memerintahkan anak-anak perempuan, istri-istri baginda dan wanita kaum Muslim untuk keluar ke tempat shalat Idul Fitri. Dalam riwayat lain, Ummu ‘Athiyyah menuturkan, “Kami diperintahkan oleh Nabi untuk mengeluarkan para perempuan dewasa, termasuk wanita-wanita yang sedang haid untuk menyaksikan kebaikan dan seruan kaum Muslim. Khusus bagi wanita yang sedang haid, dijauhkan dari tempat shalat.” (HR Muttafaq ‘alaih)

Begitu tiba di tempat shalat, Nabi memulai prosesi shalat Idul Fitri dengan shalat dua rakaat, sebelum khutbah (HR Bukhari-Muslim). Shalat dua rakaat itu tanpa adzan dan iqamat. Shalat ini dimulai dengan takbiratul al-ihram, dilanjutkan dengan takbir sebanyak tujuh kali. Setelah itu, baginda SAW melanjutkan dengan membaca al-Fatihah dan surat al-A’la, dengan suara keras (Hr. Muslim dari an-Nu’man bin Basyir), atau al-Fatihah dengan surat Qaf (HR Muslim dari al-Laitsi). Pada rakaat kedua, sebelum membaca al-Fatihah, baginda melakukan takbir sebanyak lima kali. Setelah itu, baru membaca al-Fatihah dan surat al-Ghasyiyah, atau Iqtarabati as-sa’ah. Semuanya dilakukan dengan bacaan keras (jahr).

Usai melaksanakan shalat, baginda SAW berdiri di hadapan jamaah, berhadap-hadapan dengan mereka, untuk menyampaikan khutbah Idul Fitri. Kepada baginda diserahkan tombak atau tongkat. Baginda SAW pun bersandar kepadanya (HR Ahmad dan at-Thabrani). Setelah membaca hamdalah, beliau memerintahkan takwa kepada Allah dan menaati-Nya, serta menyerukan amar makruf dan nahi munkar. Setelah usai menyampaikan khutbah di hadapan kaum pria, baginda pergi ke tempat shalat kaum wanita, serta menyampaikan khutbah yang sama kepada mereka (Hr. Muslim, Ahmad, at-Thabrani, an-Nasai dan Abu Dawud).

Abu Hurairah menuturkan, bahwa pernah suatu ketika hujan turun di saat Id, maka Nabi SAW shalat bersama para sahabat dan kaum Muslim di masjid (HR al-Hakim dan disetujui oleh ad-Dzahabi).

Setelah selesai khutbah, sebagai imam dan kepala negara, baginda SAW berdiri di tengah-tengah tempat shalat, dalam riwayat lain, baginda berdiri di pasar yang letaknya tidak jauh dari masjid Nabawi dan masjid Ghamamah. Baginda melihat jamaah yang tengah berjalan meninggalkan tempat shalat. Untuk beberapa saat baginda berdiri di sana, setelah itu baru beliau SAW meninggalkan tempat (HR Ahmad dan at-Thabrani).

Nabi SAW kembali ke rumah dengan berjalan kaki, melintasi jalan yang berbeda dengan jalan yang baginda lalui saat berangkat (Hr. Bukhari, Muslim, Ahmad, Abu Dawud, Ibn Majah, al-Hakim dan al-Baihaqi). Sesampai di rumah, beliau shalat dua rakaat (HR. Ibn Huzaimah dan Ibn Majah).

Dalam riwayat Ahmad, dengan isnad yang jayyid, dituturkan, bahwa telah menjadi kebiasaan para sahabat Rasulullah SAW jika mereka bertemu satu dengan yang lain di hari raya, mereka saling mendoakan seraya berkata, “Taqaballahu minna wa minkum (Semoga Allah menerima seluruh amal kami dan kalian).” (HR Ahmad).

Selain itu, baginda merayakan hari raya dengan nyanyian, memukul kendang dan rebana, meniup seruling dan melakukan tarian dengan pedang. Ketika Abu Bakar masuk ke rumah baginda SAW ada dua wanita Anshar sedang menyanyi sebagaimana yang dilantunkan kaum Anshar saat Peristiwa Bu’ats, meski kedua wanita itu bukan berprofesi sebagai penyanyi. Abu Bakar pun berkomentar, “Apakah boleh di rumah Rasulullah ada seruling syetan?” Mendengar itu, Nabi yang saat itu ada di rumah Aisyah bersabda, “Wahai Abu Bakar, tiap kaum mempunyai hari raya, dan ini adalah hari raya kita.” (HR Bukhari, Muslim dan Ahmad).

Begitulah Rasulullah SAW merayakan hari raya. Bagaimana dengan Anda? (HAR)

http://hizbut-tahrir.or.id/2010/09/08/merayakan-idul-fitri-bersama-nabi

Surat Terbuka Forum Umat Islam (FUI) ke-II Kepada Komisi III DPR-RI “MENOLAK REKAYASA TERORISME”

Inilah Surat Terbuka Forum Umat Islam kepada DPR-RI ‘Menolak Rekayasa Terorisme’

Bismillahirrahmanirrahiim

Surat Terbuka Forum Umat Islam (FUI) ke-II Kepada Komisi III DPR-RI
“MENOLAK REKAYASA TERORISME”

Kepada Yth.
Sdr. Ketua Komisi III DPR-RI
dan Anggota Komisi III DPR-RI
Di Senayan Jakarta

Assalamu’alaikum Warahmatullahi Wabarakatuh

Melanjutkan surat terbuka FUI yang pertama kepada Ketua dan Anggota Komisi III DPR RI tertanggal 4 Rajab 1431 H/17 Juni 2010 tentang penolakan FUI atas rekayasa terorisme, khususnya berkenaan dengan adanya rekayasa sistematis untuk menangkapi dan membunuhi para aktivis Islam atas nama pemberantasan terorisme sebagaimana dulu rekayasa dengan operasi penumpasan terhadap apa yang dinamakan dengan Komando Jihad dan setelah ditangkapnya KH. Abu Bakar Ba’asyir secara tidak hormat dan keterlaluan pada hari Senin pagi 28 Sya’ban 1431 H/9 Agustus 2010 sepulang pengajian di lapangan Mapolres Banjar Patroman Jawa Barat oleh Tim Densus 88, maka Forum Umat Islam (FUI) menyatakan :

1. Menolak segala bentuk upaya TERORISASI Islam dan Tokoh Islam beserta umatnya.

2. Mengecam penangkapan KH. Abu Bakar Ba’asyir oleh Densus 88 Mabes Polri saat sedang SAFARI DA’WAH di Jawa Barat.

3. Menduga kuat bahwa penangkapan KH. Abu Bakar Ba’asyir merupakan:

a. POLITIK REKAYASA TERORISME karena berbagai rekayasa kasus oleh Polri telah terungkap, seperti Kasus Aan yang dinarkobakan, Kasus Pemulung yang dilinting-ganjakan, kasus Gayus, kasus Bibit-Chandra dan lain-lain.

b. POLITIK PENGALIHAN ISU dari kasus-kasus besar seperti Century, Kenaikan TDL, Pencabutan Subsidi BBM, Rekening Gendut Perwira Polri, Keterlibatan Polri dalam rekayasa berbagai kasus, teror bom elpiji oleh pemerintah kepada masyarakat, dan lain-lain, untuk menutupi ketidakmampuan pemerintahan pimpinan presiden lebay.

c. POLITIK PEMBERANGUSAN gerakan Islam untuk menakut-nakuti para Aktivis Islam yang memperjuangkan penerapan Syariat Islam. Politik pemberangusan ini adalah pesanan asing (kafir harby fi’lan).

4. FUI telah mendapatkan laporan bahwa ada REKAYASA TERORISME yang dimainkan oleh seorang Desertir Brimob yang bernama SUFYAN TSAURI yang telah merekrut dan melatih para tersangka “ PELAKU PELATIHAN MILITER ACEH “ di Mako Brimob Kelapa Dua-Cimanggis-Depok-Jawa Barat sejak tahun 2009. Dan juga bahwa pelatihan di mako Brimob maupun pelatihan militer di Aceh adalah inisiatif Sofyan Tsauri dan dibantu oleh polisi aktif bernama Tatang dan Abdi Tunggal. Keterlibatan Sofyan Tsauri dan dua polisi aktif tersebut sudah diakui oleh Kadiv Humas Mabes Polri Irjen Edward Aritonang kepada media massa, Hal ini jelas menunjukkan bahwa kasus pelatihan militer Aceh tidak ada kaitannya dengan KH. Abu Bakar Ba’asyir.

5. Menuntut pembebasan KH. Abu Bakar Ba’asyir tanpa syarat.

6. Menyerukan kepada Ummat Islam untuk merapatkan Barisan dan memperkokoh Ukhuwwah Islamiyyah, serta melawan segala KEZALIMAN, sekaligus melakukan Pembelaan Hukum terhadap KH. Abu Bakar Ba’asyir sesuai dengan aturan syariat Islam dan perundang-undangan yang berlaku.

Oleh karena itu, Kepada Saudara Ketua beserta Anggota Komisi III DPR-RI kami Forum Umat Islam (FUI) mengimbau dan menyerukan :

1. Agar Saudara Pimpinan & Anggota Komisi III DPR-RI mengambil inisiatif untuk menolak dan menghentikan setiap upaya rekayasa terorisme yang mengorbankan anak bangsa sendiri, terlebih seorang ulama seperti KH. Abu Bakar Ba’asyir. Sebab pembunuhan atas jiwa seorang muslim sangat besar dosanya di sisi Allah SWT. Sebagaimana disebut dalam suatu hadits Nabi Muhammad Saw bersabda: “Sungguh hancurnya dunia dan seluruh isinya adalah lebih remeh bagi Allah SWT daripada dibunuhnya jiwa seorang muslim”. Dan sebagai wakil rakyat Saudara bertanggung jawab untuk mengontrol pemerintah agar melaksanakan kewajiban mereka melindungi seluruh rakyat Indonesia, termasuk umat Islam, terlebih para ulamanya.
Baca lebih lanjut

Waspadai Riba pada Penukaran Uang Receh

Tradisi umum sebelum mudik, adalah menyiapkan uang receh untuk dibagi-bagi buat anak-anak. Namun waspadai dan hindari transaksi riba pada penukaran uang ini. Mudik harus membawa berkah, jangan sampai membawa murka Allah SWT. Cek artikelnya, gan.

PENUKARAN UANG RECEH TAK SENILAI ADALAH RIBA
Thursday, 02 September 2010

Tanya :

Menjelang Idul Fitri biasanya banyak orang menukar uang besar dengan uang receh di pinggir jalan, tapi dengan nilai yang tidak sama. Misal : satu lembar uang seratus ribuan (Rp100.000) ditukar dengan uang receh ribuan (Rp1000) milik penjual receh sebanyak 95 lembar (Rp95.000), bukan 100 lembar. Atau satu lembar uang seratus ribuan (Rp100.000) dan selembar uang lima ribuan (Rp5000) (total Rp105.000) ditukar dengan uang receh ribuan (Rp1000) milik penjual receh sebanyak 100 lembar (Rp100.000). Apakah penukaran uang ini termasuk riba? (Haidar, Semarang).

Jawab :

Benar, penukaran uang sejenis (seperti rupiah dengan rupiah) dengan nilai tak sama seperti fakta di atas termasuk riba yang haram hukumnya. Hal itu dikarenakan penukaran uang seperti itu tidak memenuhi syarat kesamaan nilai.

Perlu diketahui penukaran uang sejenis wajib memenuhi dua syarat. Jika terpenuhi dua syaratnya, hukumnya mubah. Namun jika tak terpenuhi salah satu atau keduanya, hukumnya haram karena kelebihan/tambahan yang ada adalah riba.

Dua syarat tersebut adalah : Pertama, harus ada kesamaan (at-tasawi) dalam kuantitas (al-kamiyah) atau ukuran/kadar (al-miqdar).

Kedua, harus ada serah terima (at-taqabudh) di majelis akad, yakni maksudnya harus kontan, tidak boleh ada penundaan pada salah satu dari apa yang dipertukarkan. (Taqiyuddin an-Nabhani, Muqaddimah al-Dustur, Juz II hal. 155; ‘Ayid Fadhl al-Sya’rawi, Al-Masharif al-Islamiyah, hal. 30).
Baca lebih lanjut

Sulitnya Menjadi Muslim Minoritas

Menjadi Muslim di negara2 yang mayoritas non-Muslim memang sulit. banyak aturan2 yang mengekang kebebasan beragama, bahkan di negara2 yang MBAHnya DEMOKRASI. Belum lagi sulitnya mencari makanan yang Halal, tempat sholat yang terbatas, kecurigaan2, intimidasi, bahkan sampai pembunuhan HANYA karena beragama Islam.
Masih segar dalam ingatan, seorang wanita dibunuh di depan Hakim, pada saat ia bersaksi atas tuntutan pembunuhan yang dilakukan terdakwa atas suaminya. Aparat keamanan sangat lambat bereaksi.
Berita2 berikut menambah daftar panjang bahwa demokrasi di negara mbahnya demokrasi berarti “apapun boleh asal bukan Islam

check this out,
1. Mengaku Muslim, Sopir Taksi di New York Ditusuk Penumpangnya, kejadian di Amerika
2. Ramadhan Ini, Pekerja Muslim Italia Dilarang Puasa, kejadian di Italia

Mengaku Muslim, Sopir Taksi di New York Ditusuk Penumpangnya
Kamis, 26 Agustus 2010 | 13:45 WIB

TEMPO Interaktif, New York – Seorang sopir taksi ditusuk penumpangnya ketika dia mengaku Muslim, demikian keterangan pengurus persatuan sopir taksi kepada CNN.

Polisi telah mengetahui identitas pelaku, Michael Enright, seorang pemuda 21 tahun berkulit putih.

Pejabat kepolisian New York Mark Nell mengatakan, Enright bakal dituntut empat dakwaan, temasuk percobaan pembunuhan dan tindak kriminal lainnya.
Baca lebih lanjut

Lidwa.com, Website Hadits Berbahasa Indonesia

Awal RAMADHAN ini telah diluncurkan website konten Hadits 9 Imam dalam bahasa Arab dan tentunya dengan terjemahan bahasa Indonesia. Silakan ke TKP, di http://www.lidwa.com, IT’S ALL FREE. Semoga dapat bermanfaat terutama terkait pengetahuan kita akan Sunnah Rasulullah.

Proyek ini adalah lanjutan dari Pembuatan CD Hadits, oleh para penyusun yang sama dari Lidwa. Mudah2an menjadi amal jariyah bagi para penyusunnya, dan semua yang terlibat di dalamnya. Amin

Insting Pendengaran Seorang Pemimpin

Suatu ketika Khalifah Umar bin Khattab berdiri di mimbar seraya berkata, “Wahai manusia, dengarkan dan taatilah apa yang aku katakan.” Tiba-tiba Salman al-Farisi, salah seorang sahabat yang berasal dari Persia, berdiri dan berbicara dengan lantang, “Tidak ada lagi kewajiban bagi kami untuk mendengar dan taat kepada Anda.”

Mendengar pernyataan itu, Umar bin Khattab, seorang pemimpin yang terkenal dengan ketegasannya, menerima protes keras dari Salman al-Farisi yang mantan budak. Umar tidak merasa bahwa kritikan yang disampaikan Salman akan membuatnya terhina. Karena itu, ia menerimanya dengan lapang dada dan mencari akar masalah yang membuat perintahnya tidak ditaati.

“Wahai Salman, apa yang membuatmu tak mau mendengar dan tak mau taat?” Salman pun menjawab, “Kami tak akan mendengar dan tak akan taat, sehingga Engkau menjelaskan bagaimana Engkau mendapatkan bagian dua potong kain, sementara kami semua masing-masing hanya mendapatkan satu potong saja?!”

Umar pun jadi mengerti persoalannya. Dengan tenang dan bijak, Umar memanggil putranya, Abdullah bin Umar, untuk menjelaskan perihal pakaian yang dipakainya.

Abdullah menjelaskan, bahwa pakaian yang dipakai oleh ayahnya, salah satunya adalah milikinya yang ia berikan kepada ayahnya. Hal itu dilakukannya, karena badan Umar yang tinggi besar, sehingga bila hanya satu potong kain, maka hal itu tidak cukup untuk dibuatkan pakaian.

Setelah mendengar penjelasan itu, Salman pun lalu berkata, “Kalau demikian, silakan keluarkan perintah, kami siap mendengar dan siap menaatinya.”

Di lain kesempatan, Umar bin Khattab berkhutbah selepas shalat berjamaah. Dalam khutbahnya itu, Umar membuat batasan mahar (maskawin). Tiba-tiba seorang perempuan tua berdiri menentang intruksi Umar itu.

“Atas dasar apa, Anda membatasi mahar yang berhak diterima kaum perempuan, sedangkan Allah tidak membatasinya, bahkan berfirman, ‘Dan jika kamu ingin mengganti istrimu dengan istri yang lain, sedangkan kamu telah memberikan kepada seseorang di antara mereka harta yang banyak (sebagai mahar), maka janganlah kamu mengambil kembali daripadanya barang sedikit pun. Apakah kamu akan mengambilnya kembali dengan jalan tuduhan yang dusta dan dengan (menanggung) dosa yang nyata’?” (An-Nisa’ [4]: 20).

Mendengar protes perempuan tua itu, Umar terdiam sejenak, lalu segera berkata, “Umar telah salah dan perempuan itu yang benar.” Umar pun mencabut intruksinya.

Itulah sosok Umar bin Khattab. Pemimpin yang dikenal sangat keras, tegas, dan kuat. Namun, dengan lapang dada, dia sangat terbuka dan lembut, sama sekali tidak antikritik dan tidak marah ketika diprotes. Ketika dia melakukan kesalahan, dengan cepat ia memperbaikinya, kendati protes yang disampaikan dikemukakan di hadapan umum. Ia tidak malu untuk mengakui kesalahannya bila terbukti salah. Alangkah menakjubkannya keteladanan Umar.

Oleh: Muhammad Syamlan
Sumber: Republika

Sultan Abdul Hamid II: Pemimpin Amanah yang Dikhianati

Sultan Abdul Hamid II (1842-1918)

Sultan Abdul Hamid IIDi mana pemimpin seperti dia untuk umat?” tanya seorang pengguna milis Yahoo Indonesia! Answers, forum berbagi informasi, tempat siapa saja mengajukan pertanyaan dan jawaban. Pertanyaan tersebut ditulis dalam bahasa Inggris, dengan huruf besar semua. Ditulis pada 4 Juni 2010. Him (dia) yang dimaksud oleh si penanya adalah Sultan Abdul Hamid II.

Belum sempat yang lainnya memberikan jawaban, pengelola milis tersebut buru-buru menghapus pertanyaan yang berjudul Untuk Saudaraku Muslim… Semangat Sultan Abdul Hamid II Sehubungan dengan Palestina…? itu.

Pertanyaan ini sudah dihapus. Begitulah kalimat pemberitahuan yang ditulis di samping logo segitiga merah bertanda seru warna putih tersebut. Lho mengapa dihapus? Memang siapa Sultan Abdul Hamid II itu dan apa hubungannya dengan Palestina?

Penjaga Palestina

Sultan, lahir pada hari Rabu, 21 September 1842. Dengan nama lengkap Abdul Hamid Khan II bin Abdul Majid Khan. Ia adalah putra Abdul Majid dari istri keduanya. Ibunya meninggal saat ia berusia 7 tahun.

Sultan menguasai bahasa Turki, Arab, dan Persia. Senang membaca dan bersyair. Pada 41 Agustus 1876 (1293 H), Sultan Abdul Hamid dibaiat sebagai Khalifah di tengah-tengah merosotnya pemahaman kaum Muslim akan Islam.

Kebodohan itu membuat umat tidak tahu lagi mana kawan dan mana lawan. Tidak sedikit yang terkecoh dan bersekutu dengan penjajah termasuk penjajah Zionis Yahudi yang ngebet ingin mencaplok Palestina. Pada 1892 misalnya, sekelompok Yahudi Rusia memohon kepada Sultan untuk tinggal di Palestina.

Permohonan itu dijawab Sultan dengan tegas. “Pemerintah Ustmaniyyah memberitahukan kepada segenap kaum Yahudi yang ingin hijrah ke Turki, bahwa mereka tidak akan diizinkan menetap di Palestina”. Mendengar jawaban seperti itu kaum Yahudi terpukul berat sehingga duta besar Amerika turut campur tangan.

Empat tahun kemudian, konseptor Der Judenstaat (Negera Yahudi) Theodor Hertzl, memberanikan diri menemui Sultan Abdul Hamid sambil meminta izin mendirikan gedung di al Quds, Palestina.

Permohonan itu dijawab sultan “Sesungguhnya Khilafah Utsmaniyyah ini adalah milik kaum Muslim. Mereka tidak akan menyetujui permintaan itu. Sebab itu simpanlah kekayaan kalian itu dalam kantong kalian sendiri.”

Melihat keteguhan Sultan, mereka kemudian melakukan konferensi Basel di Swiss, pada 29-31 Agustus 1897 dalam rangka merumuskan strategi baru menghancurkan Khilafah.
Baca lebih lanjut