Medan, Horas Bah..

Sudah lama saya nggak pergi ke Medan. Terutama sejak saya memutuskan untuk keluar dari kantor dan memilih jalan hidupku sendiri (??). Dulu memang saya sering sekali tugas luar kota ke Medan dan daerah-daerah lain di Sumatera Utara. Terutama ngerjakan proyek Sistem Info Rumah Sakit (SIRS) dan Sistem Info Administrasi Kependudukan (SIAK).

Dulu saya menbayangkan (saya yakin, banyak penduduk Indonesia yg sama seperti saya), bahwa Medan adalah kotanya orang Batak. Sampai-sampai di seluruh acara kontes di TV, kalau ada peserta dari Medan pasti yel-yelnya nggak jauh dari ‘Horas’. Ternyata kenyataannya sangat berbeda. Medan adalah kotanya suku Melayu. Bahkan sampai sekarang Sultan Medan masih memiliki istana di Maimun, dan walikota Medan selalu diutamakan dari Melayu, sebagai putra asli daerah.

Sehingga ucapan salamnya bukan ‘Horas’, melainkan ‘Apa Kabar? Sehat?’. Penduduk Medan campuran, antara suku Melayu, Batak (Toba, Karo, Pakpak, Dairi, dll), Jawa, Nias, Mandailing, Chinese. Ada juga yang dari Aceh dan Minang. Uniknya lagi, salam khasnya Batak Pakpak dan Dairi bukannya ‘Horas’, melainkan ‘Mejuah-juah’ atau ‘Njuah-juah’. Entah apa bedanya..

Suku Batak berasal dari pesisir barat Sumatera Utara sampai ke tengah. Asalnya dari Pulau Samosir, Kecamatan Sianjur Mula-mula, Kab Samosir. Itulah sebabnya sering disebut Batak Toba. Sedangkan wilayah tengah sampai pesisir timur adalah suku Melayu. Sedangkan bagian selatan, banyak terpengaruh oleh budaya Minang, adalah suku Mandailing atau Tapanuli Selatan.

Buat teman-teman di Medan, Horas! eh salah.. Njuah-juah! eh salah lagi.. Apa Kabar, Bang? Sehat?

Iklan