Kisah Burung yang Sehat & Burung yang Cacat

Syaqiiq al-Balkhi adalah teman Ibrahim bin Adham yang dikenal ahli ibadah, zuhud dan tinggi tawakalnya kepada Allah. Hingga pernah sampai pada tataran enggan untuk bekerja.

Penasaran dengan keadaan temannya, Ibrahim bin Adham bertanya, “Apa sebenamya yang menyebabkan Anda bisa seperti ini?”

Syaqiiq menjawab, “Ketika saya sedang dalam perjalanan di padang yang tandus, saya melihat seekor burung yang patah kedua sayapnya. Lalu saya berkata dalam hati, aku ingin tahu, dari mana burung itu mendapatkan rizki.

Maka aku duduk memperhatikannya dari jarak yang dekat. Tiba-tiba datanglah seekor burung yang membawa makanan di paruhnya. Burung itu mendekatkan makanan ke paruh burung yang patah kedua sayapnya untuk menyuapinya.

Maka saya berkata dalam hati, “Dzat yang mengilhami burung sehat untuk menyantuni burung yang patah kedua sayapnya di tempat yang sepi ini pastilah berkuasa untuk memberiku rejeki di manapun aku berada.”

Maka sejak itu, aku putuskan untuk berhenti bekerja dan aku menyibukkan diriku dengan ibadah kepada Allah.

Mendengar penuturan Syaqiiq tersebut Ibrahim berkata, “Wahai Syaqiiq, mengapa kamu serupakan dirimu dengan burung yang cacat itu? Mengapa Anda tidak berusaha menjadi burung sehat yang memberi makan burung yang sakit itu? Bukankah itu lebih utama?

Bukankah Nabi bersabda, “Tangan di atas lebih baik daripada tangan di bawah?”

Sudah selayaknya bagi seorang mukmin memilih derajat yang paling tinggi dalam segala urusannya, sehingga dia bisa mencapai derajat orang yang berbakti”

Syaqiiq tersentak dengan pernyataan Ibrahim dan ia menyadari kekeliruannya dalam mengambil pelajaran. Serta merta diraihnya tangan Ibrahim dan dia cium tangan itu sambil berkata, “Sungguh. Anda adalah ustadzku, wahai Abu Ishaq (Ibrahim).”

(Tarikh Dimasyqi, Ibnu Asakir)

Sumber : ar-risalah No. 112 / Vol. X / 04 Syawal – Dzhulqa’dah 1431 H / Oktober 2010

Semoga bermanfaat..

Iklan

Warisan Islam dalam Ilmu Anatomi

Pengobatan IslamIlmuwan ternama al-Ghazali pernah berujar, pelajari anatomi secara mendalam, manusia akan mengetahui fungsi seluruh organ tubuh dan struktur tubuh. Ujaran al-Ghazali ini seakan menjadi langkah awal ilmuwan Muslim mendalami anatomi tubuh, atau banyak kalangan menyebutnya pula sebagai ilmu urai tubuh.

Minat akan bidang ini tumbuh pesat hingga menjelma sebagai sebuah spesialisasi dalam kedokteran Muslim. Lewat The Revival of the Religious Science, alGhazali tak hanya mengurai seluk-beluk aspek pengobatan. Ia memaparkan pula bahwa telah berabad-abad lamanya para dokter Muslim menguasai pengetahuan tentang anatomi dan fisiologi.

Termasuk kaitan kedua ilmu tersebut dengan ilmu bedah. Al-Ghazali menjelaskan, tanpa mengetahui struktur anatomi, sulit melakukan operasi pembedahan. Selama ini, ia dikenal sebagai sosok yang menguasai berbagai disiplin ilmu. Di bidang bedah dan anatomi, keahliannya sangat disegani.

Baca lebih lanjut

Apakah Islam Liberal Memiliki Ushul Fiqih?

Sekedar copas tulisan Ustadz Siddiq al-Jawi. Sumber ada di situs : http://www.khilafah1924.org/index.php?option=com_content&task=view&id=76&Itemid=47

Bagi yg merasa seideologi dengan ISLIB, silakan dikomentari. Yg setuju dg tulisan ini, juga silakan komentar 🙂

Cek selengkapnya bro..

USUL FIQH ISLAM LIBERAL?

Sunday, 04 September 2005
oleh M. Shiddiq al-Jawi

Rencana asal dari Majalah al-Wa’ei, edisi 56. Disunting dan dikembang kembali beberapa bahagian oleh Mohd Jakfar bin Hj Embek, Ketua Jabatan Dakwah, Latihan & Pembangunan Organisasi PERGAS. Akhir-akhir ini wujud semacam keghairahan dikalangan cerdik pandai, pengkaji-pengkaji badan “think thank” dan pembuat polisi samada dari kalangan Islam maupun bukan Islam untuk membuka semula dialog keislaman atas nama wacana ilmiah (intellectual discourse) atau ijtihad intelektual.

Dari sudut positifnya dialog keIslaman di era pos-911, membuka banyak ruang interaksi di media-media cetak seperti akhbar-akhbar utama, majalah-majalah antarabangsa dan juga wacana-wacana ilmiah di pusat-pusat pemikir (think thank) dan pengajian tinggi. Tetapi dalam masa yang sama dari sudut negatifnya pula membuka semacam kecelaruan berfikir para pembentang wacana disamping meruntuh asas-asas metodologi ilmiah para ‘ulama Islam.

Kedudukan dan status kerjaya orang yang diundang bercakap seolah-olah menjadi kekebalan kebenaran apa yang disampaikan daripada nilai kebenaran ilmiah itu sendiri. Wujud semacam kecelaruan semantik pada penggunaan istilah “ijtihad” menyamakan nya dengan pendapat rasional yang tiada bertepi lalu meruntuh prinsip asas metodologi ilmiah Islam. Ijtihad para ulama Islam mempunyai asas-asas sandaran metodologi ilmiah (usul) yang dibenarkan, berlainan dari pandangan bebas sesetengah pemikir yang asas bingkai mindanya dari falsafah kebebasan manusia atau hermeneutika.

Imam alGhazali menyentuh hal ini dalam bukunya Tahafut alFalasifah (Kerancuan Pemikiran Para Falsafah). Begitu juga disahkan oleh pemikir barat abad ini yang telah menganut Islam, Roger Garudy dalam bukunya The Balance Sheet of Western Philosophy. Dari sudut sejarah aliran pemikiran liberal (rasionalis) ia bukan baru, bahkan telah wujud sejak awal dari zaman Imam alGhazali (450H – 1059H). Malah pada zaman Imam Abu Hanifah (80H – 150H) lagi, beliau pernah berdebat dengan golongan rasionalis, begitu juga dengan imam-imam ‘Asyari dan alMaturidi hingga lahirnya ilmu kalam.

Baca lebih lanjut

Terjemah Al-Qur’an lewat Yahoo Messenger

Info lawas, tapi mudah2an bermanfaat.

Jika Anda menginginkan terjemahan Al-Qur’an, baik dalam bahasa Indonesia maupun bahasa Inggris, teks Arab, maupun Transliterasinya, bisa mengaksesnya lewat YM (Yahoo Messenger).

Caranya :
* Login YM
* Add sebagai teman quran.noor
* Chat dengan quran.noor untuk mendapatkan hasilnya
ketik : Quran [mode] [surat]:[ayat](-[ayat])

Chat with Quran.noor
mode :
[NONE] = bahasa Inggris
ID = Bahasa Indonesia (menggunakan Al-Quran dan Terjemahnya By Prof. Dr. RHA Soenarjo)
AR = teks Arab
TN = transliterasi (menggunakan http://www.usc.edu/dept/MSA/quran/tr…ion/table.html)

Contoh :
Quran 2:1-5 -> akan menghasilkan terjemah dalam Bahasa Inggris QS Al-Baqarah ayat 1-5
Quran ID 2:1-5 -> akan menghasilkan terjemah dalam Bahasa Indonesia QS Al-Baqarah ayat 1-5
Quran AR 2:1-5 -> akan menghasilkan teks Arab QS Al-Baqarah ayat 1-5
Quran TN 2:1-5 -> akan menghasilkan transliterasi QS Al-Baqarah ayat 1-5
Quran ID 2:1-5 -> akan menghasilkan terjemah dalam Bahasa Indonesia QS Al-Baqarah ayat 1-5
Quran ID 114:1 -> akan menghasilkan terjemah dalam Bahasa Indonesia QS Al-Nas ayat 1

Silakan dicoba. Semoga bermanfaat.

Pembakaran Al-Qur’an Tetap Dilakukan

Meskipun ditentang umat Islam dari berbagai negara, ternyata ada warga Amerika Serikat yang tetap melakukan pembakaran Al-Qur’an. Ternyata kebebasan demokrasi yang diusung oleh mbahnya demokrasi adalah kebebasan yang tidak menghargai orang lain.
Dengan kejadian ini, siapa yang teroris?

http://id.news.yahoo.com/lptn/20100916/twl-pembakaran-alquran-ternyata-jadi-dil-deaf2f6.html

Pembakaran Alquran Ternyata Jadi Dilakukan
Liputan 6 – Jumat, 17 September

Liputan6.com, Springfiled: Pembakaran Alquran yang sebelumnya akan dilakukan oleh pendeta dari Florida Terry Jones, pada peringatan tragedi 11 September, urung dilaksanakan karena mendapatkan kecaman dari berbagai pihak. Namun ternyata oleh pendeta Bob Old dan Danny Allen. Mereka membakar Alquran di halaman belakang sebuah rumah di Springfileld, Amerika Serikat, Sabtu (11/9) silam.

Bob Old dan rekannya Danny Allen berdiri bersama di halaman belakang rumah tua. Mereka menyebut tindakan itu sebagai panggilan dari Tuhan. Mereka membakar dua salinan Quran dan satu teks Islam lainnya di depan segelintir orang, yang sebagian besar dari media.

Seperti dilansir Detroit News, ternyata pembakaran Alquran juga terjadi di Michigan. Sebuah Alquran dibakar di depan pusat ajaran Islam di kota tersebut.

Ryanne Nason, seorang cendekiawan Amerika Serikat, seperti dilansir sebuah koran lokal Mainecampus, Kamis (15/9), menyebut bahwa pembakaran yang dilakukan oleh sejumlah orang sangat menyedihkan dan memalukan. Di AS, negara yang dibentuk pada keyakinan kebebasan beragama, setiap orang diberikan hak untuk mempraktikkan agama yang mereka yakini, seperti Yudaisme, Islam, Kristen, atau tidak menganut agama sama sekali. Dengan membakar Alquran atau kitab suci agama lain, bayangan seluruh bangsa lain membuat AS adalah negara tanpa kelas dan tidak etis.

Sungguh ironis bahwa Terry Jones atau Bob Old merasa memiliki perlindungan berdasarkan amandemen pertama untuk membakar kitab suci agama lain yang ia tidak percaya. Padahal semua muslim di AS dilindungi oleh undang-undang konstitusional yang sama. Hal ini akan memeberikan cela pada reputasi Amerika.

Menurut Ryanne, orang beragama menggunakan moral yang kuat dan nilai-nilai, namun sekarang orang mendiskreditkan keyakinan mereka karena bersifat menghakimi dan intoleransi. Salah satu dari banyak alasan mengapa kita memiliki pasukan di Irak dan Afghanistan adalah untuk melawan penindasan dan penganiayaan agama terhadap penduduk negara di negara tersebut. Namun, saat ini ternyata warga negara Amerika sendiri yang melecehkan agama lain.

Di Chicago, Mohammed Kaiseruddin, Dewan Direksi Pusat Ajaran Islam memberikan gambaran terhadap pembakaran Alquran yang sangat berbeda dengan nilai-nilai yang dianutnya. Ia mengatakan kepada Huffington Post hari ini, “Kami merasa seperti kita sudah menjadi korban. Ketika kami memegang Alquran, kami memperlakukannya dengan sangat hormat. Kami tidak pernah menaruh salinan Alquran di lantai. Sejak kecil, kami selalu mengingatkan anak-anak untuk menghormati kitab suci ini. Kami juga mengajarkan kepada mereka ketika selesai membaca Alquran, mereka menutup dan menciumnya, lalu menyimpannya”. (Huffington Post/Mainecampus/Detroitnews/DES/IAN)

Merayakan Idul Fitri Bersama Nabi

Idul Fitri bukan sekadar hari raya, tapi di dalamnya ada tatacaranya.

Allah SWT telah mensyariatkan dua hari raya bagi umat Islam setiap tahun. Masing-masing jatuh setelah pelaksanaan ibadah yang agung, yaitu puasa Ramadhan untuk Idul Fitri, dan haji di Baitullah untuk Idul Adha. Hari raya ini merupakan hari kegembiraan bagi umat Islam di seluruh penjuru dunia.

Ketika matahari tenggelam di malam Idul Fitri, Rasul SAW mulai mengumandangkan takbir, untuk melaksanakan perintah Allah SWT: “Sempurnakanlah bilangan (bulan) itu, serta agungkanlah asma Allah sesuai dengan apa yang Dia tunjukkan kepada kalian agar kalian bisa bersyukur (kepada-Nya).” (TQS al-Baqarah [02]: 185). Dalam kitab as-Sunan al-Kubra, karya al-Baihaqi, dituturkan bahwa takbir yang dikumandangkan Nabi itu berbunyi, “Allahu akbar, Allahu akbar, Allahu akbar, Lailaha Ill-Llahu wal-Lahu akbar, Allahu akbar wa li-Llahi al-hamd.” Takbir ini dikumandangkan dengan suara keras hingga esok harinya, ketika imam berdiri untuk shalat.

Di pagi hari, sebelum berangkat ke tempat shalat Idul Fitri, Nabi SAW mandi sunnah, sebagaimana tatacara mandi junub, untuk membersihkan seluruh tubuh baginda SAW. Baginda pun memakai pengharum untuk mengharumkan tubuh mulianya. Setelah itu, baginda pun mengenakan baju yang paling bagus, berdandan dan mengoleskan minyak wangi ke pakaian baginda sehingga yang tercium adalah bau harum. Menurut Ibn Qayyim, baginda SAW mempunyai baju khusus yang baginda kenakan di hari raya dan hari Jumat.

Setelah itu, Nabi pun sarapan pagi terlebih dahulu, baru setelah itu keluar menuju tempat shalat Idul Fitri. Anas bin Malik –radhiya-Llahu ‘anhu—menuturkan, bahwa yang dimakan baginda SAW sebelum berangkat ke tempat shalat Idul Fitri adalah beberapa butir kurma. Baginda pun memakannya dalam hitungan ganjil (HR. Bukhari). Satu butir, tiga, lima, tujuh atau hitungan ganjil lainnya..

Sebelum berangkat ke tempat shalat Idul Fitri, baginda memerintahkan dikeluarkannya zakat Fitrah. Setelah itu, Nabi berangkat ke tempat shalat Idul Fitri, dengan berjalan kaki sembari membaca takbir, tahlil dan tahmid untuk mensyukuri nikmat yang diberikan oleh Allah SWT, yang baginda baca dengan suara keras sepanjang perjalanan dari rumah baginda hingga ke tempat shalat Id. Tempat yang biasa digunakan oleh Nabi saw. untuk mengerjakan shalat Id itu berada di luar masjid Nabawi, letaknya kira-kira 200 m dari Babus Salam, Masjid Nabawi. Kini di tempat itu, didirikan bangunan masjid, yang diberi nama Masjid Ghamamah.

Baginda pernah mengirim surat kepada Amru bin Hazm agar mengakhirkan pelaksanaan shalat Idul Fitri dan menyegerakan pelaksanaan shalat Idul Adha. Ini untuk memberi kesempatan kepada kaum Muslim yang hendak mengeluarkan zakat fitrah agar bisa menunaikannya sebelum imam memulai shalatnya (Ibn Qudamah, al-Mughni, 412).

Baginda SAW pun memerintahkan anak-anak perempuan, istri-istri baginda dan wanita kaum Muslim untuk keluar ke tempat shalat Idul Fitri. Dalam riwayat lain, Ummu ‘Athiyyah menuturkan, “Kami diperintahkan oleh Nabi untuk mengeluarkan para perempuan dewasa, termasuk wanita-wanita yang sedang haid untuk menyaksikan kebaikan dan seruan kaum Muslim. Khusus bagi wanita yang sedang haid, dijauhkan dari tempat shalat.” (HR Muttafaq ‘alaih)

Begitu tiba di tempat shalat, Nabi memulai prosesi shalat Idul Fitri dengan shalat dua rakaat, sebelum khutbah (HR Bukhari-Muslim). Shalat dua rakaat itu tanpa adzan dan iqamat. Shalat ini dimulai dengan takbiratul al-ihram, dilanjutkan dengan takbir sebanyak tujuh kali. Setelah itu, baginda SAW melanjutkan dengan membaca al-Fatihah dan surat al-A’la, dengan suara keras (Hr. Muslim dari an-Nu’man bin Basyir), atau al-Fatihah dengan surat Qaf (HR Muslim dari al-Laitsi). Pada rakaat kedua, sebelum membaca al-Fatihah, baginda melakukan takbir sebanyak lima kali. Setelah itu, baru membaca al-Fatihah dan surat al-Ghasyiyah, atau Iqtarabati as-sa’ah. Semuanya dilakukan dengan bacaan keras (jahr).

Usai melaksanakan shalat, baginda SAW berdiri di hadapan jamaah, berhadap-hadapan dengan mereka, untuk menyampaikan khutbah Idul Fitri. Kepada baginda diserahkan tombak atau tongkat. Baginda SAW pun bersandar kepadanya (HR Ahmad dan at-Thabrani). Setelah membaca hamdalah, beliau memerintahkan takwa kepada Allah dan menaati-Nya, serta menyerukan amar makruf dan nahi munkar. Setelah usai menyampaikan khutbah di hadapan kaum pria, baginda pergi ke tempat shalat kaum wanita, serta menyampaikan khutbah yang sama kepada mereka (Hr. Muslim, Ahmad, at-Thabrani, an-Nasai dan Abu Dawud).

Abu Hurairah menuturkan, bahwa pernah suatu ketika hujan turun di saat Id, maka Nabi SAW shalat bersama para sahabat dan kaum Muslim di masjid (HR al-Hakim dan disetujui oleh ad-Dzahabi).

Setelah selesai khutbah, sebagai imam dan kepala negara, baginda SAW berdiri di tengah-tengah tempat shalat, dalam riwayat lain, baginda berdiri di pasar yang letaknya tidak jauh dari masjid Nabawi dan masjid Ghamamah. Baginda melihat jamaah yang tengah berjalan meninggalkan tempat shalat. Untuk beberapa saat baginda berdiri di sana, setelah itu baru beliau SAW meninggalkan tempat (HR Ahmad dan at-Thabrani).

Nabi SAW kembali ke rumah dengan berjalan kaki, melintasi jalan yang berbeda dengan jalan yang baginda lalui saat berangkat (Hr. Bukhari, Muslim, Ahmad, Abu Dawud, Ibn Majah, al-Hakim dan al-Baihaqi). Sesampai di rumah, beliau shalat dua rakaat (HR. Ibn Huzaimah dan Ibn Majah).

Dalam riwayat Ahmad, dengan isnad yang jayyid, dituturkan, bahwa telah menjadi kebiasaan para sahabat Rasulullah SAW jika mereka bertemu satu dengan yang lain di hari raya, mereka saling mendoakan seraya berkata, “Taqaballahu minna wa minkum (Semoga Allah menerima seluruh amal kami dan kalian).” (HR Ahmad).

Selain itu, baginda merayakan hari raya dengan nyanyian, memukul kendang dan rebana, meniup seruling dan melakukan tarian dengan pedang. Ketika Abu Bakar masuk ke rumah baginda SAW ada dua wanita Anshar sedang menyanyi sebagaimana yang dilantunkan kaum Anshar saat Peristiwa Bu’ats, meski kedua wanita itu bukan berprofesi sebagai penyanyi. Abu Bakar pun berkomentar, “Apakah boleh di rumah Rasulullah ada seruling syetan?” Mendengar itu, Nabi yang saat itu ada di rumah Aisyah bersabda, “Wahai Abu Bakar, tiap kaum mempunyai hari raya, dan ini adalah hari raya kita.” (HR Bukhari, Muslim dan Ahmad).

Begitulah Rasulullah SAW merayakan hari raya. Bagaimana dengan Anda? (HAR)

http://hizbut-tahrir.or.id/2010/09/08/merayakan-idul-fitri-bersama-nabi

DPR Akan Usut Pelanggaran HAM Densus 88 terhadap Aktivis Islam

Banyak tersangka yang langsung ditembak mati di tempat, sehingga tidak sempat diadili, apakah mereka benar2 bersalah atau hanya sebatas dituduh.

DPR Akan Usut Pelanggaran HAM Densus 88 terhadap Aktivis Islam

JAKARTA (voa-islam.com) – Setelah mendapat laporan mengenai kebiadaban aparat Densus 88 Mabes Polri dalam menyiksa para tersangka “terorisme” saat interogasi dalam tahanan dan proses penangkapan sewenang-wenang terhadap Ustadz Abu Bakar Ba’asyir, akhirnya Komisi III DPR RI sepakat akan membentuk Panitia Kerja (Panja) Pencari Fakta Pemberantasan Terorisme.

Demikian antara lain hasil dari dengar pendapat antara Komisi III DPR RI dengan Forum Umat Islam (FUI) yang dihadiri hampir 50 ormas Islam di Gedung DPR-MPR Senayan, Jakarta, Selasa (31/8). Dari FUI diwakili KH Muhammad Al Khaththath (Sekjen), Achmad Michdan (TPM), KH Mudzakir (FPIS), Munarman (FPI), Chep Hernawan (GARIS) dan Ustadz Abu Jibril (MMI), Ust. Sobri Lubis (FPI), Aru Syeif Ashadullah (Suara Islam), Ustadzah. Nurdiati Akma (MPU), dan Tokoh FUI lainnya. Sedangkan Komisi III diwakili Fachri Hamzah dan Aziz Syamsuddin (Wakil Ketua), Ahmad Yani, Nudirman Munir, Adang Darojatun (anggota) dan lain-lain.

“Saya kira apa yang selama ini dilakukan Densus 88 dalam menginterogasi dengan cara menyiksa secara keji para tersangka teroris sebelum diadili, merupakan pelanggaran HAM dan prinsip-prinsip kemanusiaan. Ini tidak bisa lagi ditoleransi, sebab bangsa Indonesia adalah bangsa merdeka yang menjunjung tinggi HAM. Kita harus hapuskan kekejian semacam ini. Saya mengusulkan agar dibentuk Panja untuk menyelesaikannya,” tegas anggota Komisi III dari FPP, Ahmad Yani, yang akhirnya disetujui seluruh unsur pimpinan dan anggota Komisi III DPR yang hadir dalam pertemuan tersebut.

Sedangkan menurut Nudirman Munir, tindakan Densus 88 itu merupakan abuse of power (penyalahgunaan kekuasaan) dari Polri terhadap umat Islam dengan tuduhan terorisme. Dengan melakukan penyiksaan, polisi telah melakukan pelanggaran HAM berat.

“Cara yang dilakukan Densus 88 dengan metode penyiksaan kejinya jelas menunjukkan jauhnya mereka dari kepribadian bangsa Indonesia. Apa kita ingin menciptakan Kamp Penyiksaan Guantanamo kedua di Indonesia,” tegas Nudirman Munir dengan merujuk Kamp Penyiksaan Guantanamo milik AS di Kuba.

“Densus 88 dan Satgas Anti Bom berperan seperti Kopkamtib pada masa Orde Baru dengan melakukan tindakan represif terhadap para aktivis Islam yang berseberangan dengan pemerintah. Saya minta keuangan Densus 88 dan Satgas Anti Bom diaudit, sebab pendanaannya tidak diambilkan dari APBN tetapi dari bantuan asing,” tegas Munarman.
Baca lebih lanjut

Surat Terbuka Forum Umat Islam (FUI) ke-II Kepada Komisi III DPR-RI “MENOLAK REKAYASA TERORISME”

Inilah Surat Terbuka Forum Umat Islam kepada DPR-RI ‘Menolak Rekayasa Terorisme’

Bismillahirrahmanirrahiim

Surat Terbuka Forum Umat Islam (FUI) ke-II Kepada Komisi III DPR-RI
“MENOLAK REKAYASA TERORISME”

Kepada Yth.
Sdr. Ketua Komisi III DPR-RI
dan Anggota Komisi III DPR-RI
Di Senayan Jakarta

Assalamu’alaikum Warahmatullahi Wabarakatuh

Melanjutkan surat terbuka FUI yang pertama kepada Ketua dan Anggota Komisi III DPR RI tertanggal 4 Rajab 1431 H/17 Juni 2010 tentang penolakan FUI atas rekayasa terorisme, khususnya berkenaan dengan adanya rekayasa sistematis untuk menangkapi dan membunuhi para aktivis Islam atas nama pemberantasan terorisme sebagaimana dulu rekayasa dengan operasi penumpasan terhadap apa yang dinamakan dengan Komando Jihad dan setelah ditangkapnya KH. Abu Bakar Ba’asyir secara tidak hormat dan keterlaluan pada hari Senin pagi 28 Sya’ban 1431 H/9 Agustus 2010 sepulang pengajian di lapangan Mapolres Banjar Patroman Jawa Barat oleh Tim Densus 88, maka Forum Umat Islam (FUI) menyatakan :

1. Menolak segala bentuk upaya TERORISASI Islam dan Tokoh Islam beserta umatnya.

2. Mengecam penangkapan KH. Abu Bakar Ba’asyir oleh Densus 88 Mabes Polri saat sedang SAFARI DA’WAH di Jawa Barat.

3. Menduga kuat bahwa penangkapan KH. Abu Bakar Ba’asyir merupakan:

a. POLITIK REKAYASA TERORISME karena berbagai rekayasa kasus oleh Polri telah terungkap, seperti Kasus Aan yang dinarkobakan, Kasus Pemulung yang dilinting-ganjakan, kasus Gayus, kasus Bibit-Chandra dan lain-lain.

b. POLITIK PENGALIHAN ISU dari kasus-kasus besar seperti Century, Kenaikan TDL, Pencabutan Subsidi BBM, Rekening Gendut Perwira Polri, Keterlibatan Polri dalam rekayasa berbagai kasus, teror bom elpiji oleh pemerintah kepada masyarakat, dan lain-lain, untuk menutupi ketidakmampuan pemerintahan pimpinan presiden lebay.

c. POLITIK PEMBERANGUSAN gerakan Islam untuk menakut-nakuti para Aktivis Islam yang memperjuangkan penerapan Syariat Islam. Politik pemberangusan ini adalah pesanan asing (kafir harby fi’lan).

4. FUI telah mendapatkan laporan bahwa ada REKAYASA TERORISME yang dimainkan oleh seorang Desertir Brimob yang bernama SUFYAN TSAURI yang telah merekrut dan melatih para tersangka “ PELAKU PELATIHAN MILITER ACEH “ di Mako Brimob Kelapa Dua-Cimanggis-Depok-Jawa Barat sejak tahun 2009. Dan juga bahwa pelatihan di mako Brimob maupun pelatihan militer di Aceh adalah inisiatif Sofyan Tsauri dan dibantu oleh polisi aktif bernama Tatang dan Abdi Tunggal. Keterlibatan Sofyan Tsauri dan dua polisi aktif tersebut sudah diakui oleh Kadiv Humas Mabes Polri Irjen Edward Aritonang kepada media massa, Hal ini jelas menunjukkan bahwa kasus pelatihan militer Aceh tidak ada kaitannya dengan KH. Abu Bakar Ba’asyir.

5. Menuntut pembebasan KH. Abu Bakar Ba’asyir tanpa syarat.

6. Menyerukan kepada Ummat Islam untuk merapatkan Barisan dan memperkokoh Ukhuwwah Islamiyyah, serta melawan segala KEZALIMAN, sekaligus melakukan Pembelaan Hukum terhadap KH. Abu Bakar Ba’asyir sesuai dengan aturan syariat Islam dan perundang-undangan yang berlaku.

Oleh karena itu, Kepada Saudara Ketua beserta Anggota Komisi III DPR-RI kami Forum Umat Islam (FUI) mengimbau dan menyerukan :

1. Agar Saudara Pimpinan & Anggota Komisi III DPR-RI mengambil inisiatif untuk menolak dan menghentikan setiap upaya rekayasa terorisme yang mengorbankan anak bangsa sendiri, terlebih seorang ulama seperti KH. Abu Bakar Ba’asyir. Sebab pembunuhan atas jiwa seorang muslim sangat besar dosanya di sisi Allah SWT. Sebagaimana disebut dalam suatu hadits Nabi Muhammad Saw bersabda: “Sungguh hancurnya dunia dan seluruh isinya adalah lebih remeh bagi Allah SWT daripada dibunuhnya jiwa seorang muslim”. Dan sebagai wakil rakyat Saudara bertanggung jawab untuk mengontrol pemerintah agar melaksanakan kewajiban mereka melindungi seluruh rakyat Indonesia, termasuk umat Islam, terlebih para ulamanya.
Baca lebih lanjut

Pernyataan Sikap FPI Tentang Hubungan Indonesia dan Malaysia

Berikut ini pernyataan sikap FPI tentang hubungan Indonesia dan Malaysia yang kian memanas. Semoga sikap dewasa seperti FPI ini dicontoh ole kita semua. Jauhi sikap menghujat, mengumpat, maupun kata2 kotor.
Setuju?

Pernyataan Sikap FPI Tentang Hubungan Indonesia dan Malaysia

Assalamu’alaikum wr.wb.

Sehubungan dengan memanasnya hubungan Indonesia dan Malaysia, maka dengan ini Dewan Pimpinan Pusat – Front Pembela Islam (DPP-FPI) menyatakan sikap sebagai berikut :

1. Mendorong pemerintah Indonesia dan Malaysia untuk duduk bersama melakukan PERUNDINGAN KOMPREHENSIF yang sejuk dan bermartabat dalam berbagai persoalan terkait hubungan kedua Negara.
2. Meminta Indonesia dan Malaysia sebagai Negara SAUDARA SERUMPUN bertetangga yang sama menjadi anggota Organisasi Konferensi Islam (OKI) agar saling menghormati kedaulatan kedua negara untuk menciptakan perdamaian yang hakiki.
3. Menolak dan mengecam segala bentuk provokasi dan agitasi yang ingin menciptakan konflik dan konfrontasi adu domba antara Indonesia dan malaysia.
4. Memperjelas perbatasan Indonesia dan Malaysia di laut, darat dan udara agar diketahui oleh masyarakat awam sekali pun, dan mengadakan patroli bersama di perbatasan untuk menciptakan keamanan bagi kedua Negara.
5. Meminta pemerintah Malaysia untuk mengevaluasi dan mempercepat poses hukum menyangkut ratusan TKI bermasalah di Malaysia serta MERINGANKAN sanksi hukumnya, bahkan mengupayakan PEMBEBASAN mereka tanpa mengurangi supremasi hukum negara Malaysia.

Demikian Pernyataan Sikap FPI ini dibuat dengan tulus untuk menjaga hubungan baik Indonesia dan Malaysia yang sudah terjalin sejak lama demi mengharap Ridho Allah SWT.

Wassalamu’alaikum wr.wb.

Jakarta, 18 Ramadhan 1431 H / 28 Agustus 2010
Dewan Pimpinan Pusat Front Pembela Islam

Sumber : http://www.warta-ummat.com/index.php?option=com_content&view=article&id=2444:-pernyataan-sikap-fpi-tentang-hubungan-indonesia-dan-malaysia&catid=102:umum&Itemid=476

Waspadai Riba pada Penukaran Uang Receh

Tradisi umum sebelum mudik, adalah menyiapkan uang receh untuk dibagi-bagi buat anak-anak. Namun waspadai dan hindari transaksi riba pada penukaran uang ini. Mudik harus membawa berkah, jangan sampai membawa murka Allah SWT. Cek artikelnya, gan.

PENUKARAN UANG RECEH TAK SENILAI ADALAH RIBA
Thursday, 02 September 2010

Tanya :

Menjelang Idul Fitri biasanya banyak orang menukar uang besar dengan uang receh di pinggir jalan, tapi dengan nilai yang tidak sama. Misal : satu lembar uang seratus ribuan (Rp100.000) ditukar dengan uang receh ribuan (Rp1000) milik penjual receh sebanyak 95 lembar (Rp95.000), bukan 100 lembar. Atau satu lembar uang seratus ribuan (Rp100.000) dan selembar uang lima ribuan (Rp5000) (total Rp105.000) ditukar dengan uang receh ribuan (Rp1000) milik penjual receh sebanyak 100 lembar (Rp100.000). Apakah penukaran uang ini termasuk riba? (Haidar, Semarang).

Jawab :

Benar, penukaran uang sejenis (seperti rupiah dengan rupiah) dengan nilai tak sama seperti fakta di atas termasuk riba yang haram hukumnya. Hal itu dikarenakan penukaran uang seperti itu tidak memenuhi syarat kesamaan nilai.

Perlu diketahui penukaran uang sejenis wajib memenuhi dua syarat. Jika terpenuhi dua syaratnya, hukumnya mubah. Namun jika tak terpenuhi salah satu atau keduanya, hukumnya haram karena kelebihan/tambahan yang ada adalah riba.

Dua syarat tersebut adalah : Pertama, harus ada kesamaan (at-tasawi) dalam kuantitas (al-kamiyah) atau ukuran/kadar (al-miqdar).

Kedua, harus ada serah terima (at-taqabudh) di majelis akad, yakni maksudnya harus kontan, tidak boleh ada penundaan pada salah satu dari apa yang dipertukarkan. (Taqiyuddin an-Nabhani, Muqaddimah al-Dustur, Juz II hal. 155; ‘Ayid Fadhl al-Sya’rawi, Al-Masharif al-Islamiyah, hal. 30).
Baca lebih lanjut