Seputar Penahanan Ustad Abu Bakar Baasyir (ABB)

Ustadz ABB kembali ditahan polisi, dengan tuduhan Terorisme, tuduhan klasik yang berulang-ulang dituduhkan.

Ustadz ABB pernah menjalani 2 kali hukuman.
2 September 2003 : Pengadilan memutuskan hukuman 4 tahun penjara, karena tuduhan Makar dan pelanggaran keimigrasian. Keterlibatan Ba’asyir dalam aksi makar tidak terbukti (dalam persidangan Banding), sehingga hukuman adalah kesalahan pelanggaran keimigrasian.

Berikut kronologi hukuman pertama yang dijalani Ustadz ABB

18 Oktober 2002
Ba’asyir ditetapkan tersangka oleh Kepolisian RI menyusul pengakuan Omar Al Faruq kepada Tim Mabes Polri di Afghanistan juga sebagai salah seorang tersangka pelaku pengeboman di Bali.

31 Januari 2003.
Penahanan Ba’asyir diperpanjang.

27 Februari 2003
Sehari sebelum masa penahanan Ba’asyir berakhir, kejaksaan menyatakan berkas pemeriksaan kasus Ba’asyir lengkap. Polisi menyerahkan dia ke Kejaksaan Tinggi DKI Jakarta.

28 Februari 2003
Penyidik dari Markas Besar Kepolisian RI menyerahkan tersangka Ba’asyir ke Kejaksaan Tinggi DKI Jakarta. Ba’asyir tidak lagi dituduh mencoba membunuh Presiden Megawati dan terlibat peledakan bom malam Natal, melainkan dituduh mencoba menggulingkan pemerintahan yang sah atau makar.

23 April 2003
Sidang perkara makar dengan terdakwa Ba’asyir digelar pertama kalinya oleh Pengadilan Negeri Jakarta Pusat di gedung Badan Meteorologi dan Geofisika, Jakarta Pusat. Ba’asyir diancam pidana 20 tahun, maksimal seumur hidup.

12 Agustus 2003
Kongres Mujahidin II Majelis Mujahidin sepakat mendudukkan kembali Abu Bakar Ba’asyir sebagai Amirul Mujahidin untuk periode 2003-2008.

12 Agustus 2003
Jaksa penuntut umum Hasan Madani menuntut terdakwa Abu Bakar Ba’asyir 15 tahun penjara. Empat dakwaan yang dituduhkan, yaitu makar, menyuruh memasukkan keterangan palsu ke dalam akta otentik, memalsukan surat, dan selaku orang asing yang berada di wilayah Indonesia secara tidak sah.

2 September 2003
Majelis Hakim memutuskan vonis 4 tahun penjara.

10 November 2003
Pengadilan tinggi menurunkan hukuman menjadi 3 tahun penjara. Keterlibatan Ba’asyir dalam aksi makar tidak terbukti. Ia hanya melanggar keimigrasian.

3 Maret 2004
Kasasi Mahkamah Agung menurunkan lagi hukuman Ba’asyir menjadi satu setengah tahun penjara.


Berikut berita seputar jatuhnya vonis tanggal 2 September 2003 (http://www.suaramerdeka.com/harian/0309/03/nas1.htm)

Ba’asyir: Ini Vonis Zalim

Ustad Abu Bakar Ba’asyir divonis hukuman penjara empat tahun. Setelah melalui persidangan delapan jam (10.00-18.00), majelis hakim yang diketuai H Mohammad Shaleh SH MH menyatakan terdakwa Abu Bakar alias Abu Bakar Ba’asyir bin Abu Ba’asyir alias Abdus Samad terbukti secara sah dan meyakinkan bersalah melakukan tindak pidana berupa turut serta melakukan tindak pidana makar dengan maksud untuk menggulingkan pemerintah, membuat surat palsu, dan masuk-keluar wilayah Indonesia tanpa melalui pemeriksaan pejabat imigrasi.

Majelis hakim tersebut beranggotakan H Andi Samsan Nganro SH, Ny Hj Roekmini SH, H Mohammad Damim Soenusi SH MH, dan Drs Panusunan Harahap SH.

”Terhadap terdakwa, majelis hakim menjatuhkan pidana penjara empat tahun dikurangi lamanya terdakwa berada dalam tahanan. Dan, memerintahkan agar terdakwa tetap dalam tahanan. Menghukum pula terdakwa untuk membayar biaya perkara ini Rp 7.500,” kata Mohammad Saleh yang disambut teriakan “huuu …” dari pendukung Ba’asyir yang memenuhi jalan di luar Aula Serbaguna Gedung Badan Meteorologi dan Geofisika Kemayoran, kemarin.

Naik Banding

Seusai membacakan putusan tersebut, M Shaleh memberikan kesempatan terhadap Ba’asyir untuk berpikir sebelum menyatakan banding atau menerima putusan itu. Koordinator Tim Pembela Abu Bakar Ba’asyir (TPABB) Dr Adnan Buyung Nasution SH, kemudian meminta waktu beberapa menit untuk berkonsultasi dengan kliennya itu.

Tiga menit kemudian, Ba’syir bergerak menuju ke mikrofon untuk menyebutkan langkah hukum yang akan diambilnya.

“Bismillahirrahmanirrahim. Majelis hakim, saya meyakini bahwa keputusan ini dalam hukum agama adalah zalim. Saya punya bukti dan alasannya. Saya memperjuangkan syariat Islam lalu dituduh makar. Karena itu, saya tidak bisa terima dan haram hukumnya menerima. Saya menyatakan naik banding,” ungkap Ba’asyir yang langsung disambut takbir pendukungnya di dalam dan di luar ruang sidang.

Selanjutnya, Ba’asyir meminta kepada semua pendukungnya untuk bubar dengan tertib, jangan membuat keributan apa pun.

”Boleh takbir, tapi tetap tertib. Hati-hati provokator dari Amerika,” ujar pengasuh Pondok Pesantren Al Mukmin, Ngruki, Sukoharjo tersebut.

Sementara itu, pada bagian lain pertimbangan hukum majelis hakim disebutkan, hal-hal yang memberatkan Ba’asyir adalah pernah dihukum. Adapun hal-hal yang meringankan adalah telah berusia lanjut, yaitu 65 tahun, serta selama persidangan bersikap sopan dan kooperatif.

Majelis hakim mengemukakan, pemidanaan terhadap Ba’asyir tersebut bukan bermaksud untuk balas dendam, melainkan sebagai upaya pendidikan dan pengayoman agar terdakwa tidak mengulangi lagi perbuatannya pada kemudian hari. Di lain pihak, agar orang lain tidak mencontoh perbuatan yang sama.

Tak Terbukti

Dalam pertimbangan hukumnya, majelis hakim menyatakan Ba’asyir yang Amirul Majelis Mujahidin Indonesia (MMI) tidak terbukti sebagai Amir Jamaah Islamiyah (JI). Majelis menilai, bukti-bukti pengangkatan Ba’asyir sebagai Amir JI tidak pernah terungkap dalam persidangan. Semua saksi yang dihadapkan tidak pernah melihat langsung peristiwa pelantikan Ba’asyir.

Mereka hanya tahu dari pernyataan Hambali dan perasaan semata, karena Ba’asyir terlihat akrab dengan Abdullah Sungkar yang menjabat sebagai Amir JI.

Ba’asyir juga tidak terbukti sebagai dalang dari rencana pembunuhan terhadap Wapres (saat itu-Red) Megawati Soekarnoputri. Keterangan saksi-saksi yang dihadapkan ke persidangan tidak mendukung kebenaran hal itu. Rencana pembunuhan terhadap Mega tersebut hanya dikatakan Faiz Abu Bakar Bafana melalui teleconference.

Oleh majelis hakim, kedua tuduhan itu dikesampingkan. Dengan demikian, Ba’asyir harus dibebaskan dari dakwaan primer. Begitu juga dengan dakwaan bahwa Ba’asyir terlibat atau merestui aksi teror bom di beberapa tempat di Indonesia (Pekanbaru, Batam, Jakarta, Mojokerto, Bali) juga sama sekali tidak terbukti.

Adapun dakwaan kesatu subsider, jelas majelis hakim, Ba’asyir dianggap turut serta dalam rencana makar. Ba’asyir terbukti menyetujui pengiriman sekelompok orang ke Afghanistan, Filipina Selatan, dan Ambon.

Berdasarkan keterangan para saksi, Ba’asyir mengetahui dan menyetujui pelatihan militer bagi JI di bawah pimpinan Abdullah Sungkar. Ba’asyir juga terbukti telah memberikan dakwah kepada anggota JI untuk membangkitkan semangat jihad.

Fakta lainnya, Ba’asyir pergi meninggalkan Indonesia (1985) ke Malaysia bersama Sungkar, begitu juga ketika kembali ke Tanah Air (1999) juga bersama Sungkar. Dengan demikian, ada keterkaitan antarkeduanya.

Walau begitu, majelis hakim mengakui adanya perbedaan antara Abdullah Sungkar dan Ba’asyir. Perbedaan itu, Ba’asyir lebih mementingkan substansi syariat Islam daripada nama atau bentuk negara Islam, sedangkan Abdullah Sungkar mementingkan bentuk formal negara Islam.

Majelis juga tidak melihat upaya Ba’asyir untuk menanggalkan status WNI-nya, walaupun 14 tahun di Malaysia tidak pernah melapor ke KBRI. Alasan keinginan Ba’asyir lari ke luar negeri untuk menghindari jeratan hukum yang telah ditetapkan oleh Mahkamah Agung (MA) pada masa pemerintahan Orde Baru bisa diterima. Karena itu, secara yuridis Abu Bakar Ba’asyir masih berstatus sebagai warga negara Indonesia.

Aneh

Namun, Ba’asyir terjerat surat pernyataan bahwa dirinya tidak pernah pindah saat akan membuat KTP baru. Sebab, faktanya dia sudah meninggalkan rumahnya sejak 1985 dan bermukim 14 tahun di Malaysia. Karena itu, Ba’asyir terbukti membuat surat keterangan palsu.

Seusai sidang, Adnan Buyung kepada wartawan mengaku merasa aneh bila kliennya dinyatakan turut serta dalam tindakan makar. Buyung menegaskan, kliennya tidak pernah ingin mengubah NKRI ini menjadi negara Islam. Namun, hanya berupaya memasukkan unsur-unsur syariat Islam dalam tatanan kenegaraan.

”Klien saya hanya berupaya nilai-nilai yang sesuai dengan syariat Islam dapat diakomodasi pemerintah. Ini berkaitan dengan mayoritas penduduk Indonesia yang muslim. Namun sama sekali tidak ingin merubah NKRI,” tuturnya.

Buyung menilai, putusan yang dibuat majelis hakim sangat bertolak belakang dengan pengakuan majelis hakim dalam persidangan tadi. Dia menyebutkan, hakim mengakui adanya perbedaan Amir JI Abdullah Sungkar dengan Ba’asyir.

Karena itu, Adnan meminta agar pemeriksaan terhadap kliennya dilakukan dari awal kembali. Dan, dia berharap agar dalam persidangan tingkat banding nantinya tidak mengacu pada putusan Pengadilan Negeri Jakarta Pusat yang diketuai Mohammad Saleh.

Wakil Koordinator TPABB Mahendradata SH MSc menilai, langkah kliennya untuk banding adalah tepat. Dia mengemukakan, divonis satu hari pun Ba’asyir harus banding, karena banyak fakta persidangan yang tidak menguatkan keikutsertaan Ba’asyir dalam tuduhan makar itu.

Sementara itu istri Ba’asyir, Aisyah Baradja, seusai sidang tidak mau berkomentar apa-apa. Dia bersama anaknya menuju ke masjid yang tidak jauh dari lokasi persidangan dengan pengawalan pendukung Ba’asyir.

Downer Kecewa

Menlu Australia Alexander Downer, kemarin, tidak kuasa menahan kecewa atas hukuman empat tahun penjara yang dijatuhkan hakim kepada Abu Bakar Ba’asyir.

Hukuman yang diterima Ba’asyir itu lebih kecil dari tuntutan jaksa, 15 tahun, dalam kasus yang dipandang oleh negara-negara lain sebagai ujian atas kemauan Pemerintah Indonesia untuk menindak keras kaum militan.

”Kami menyambut baik keputusan itu. Namun, saya kira ada kontroversi tentang ringannya hukuman tersebut. Kami semula mengira dia bakal dihukum 10 atau 12 tahun,” papar Downer kepada para wartawan di Melbourne.

”Saya kira, kenyataan dia divonis telah menunjukkan pesan bahwa Indonesia semakin bersungguh-sungguh dalam menangani isu terorisme dan ancaman luas terhadap keamanan negara mereka.”

Sekalipun pengadilan menyatakan tidak ada cukup bukti untuk menunjukkan Ba’asyir memimpin jaringan JI yang disebut-sebut sebagai pelaku serangan-serangan bom di Asia Tenggara, Downer meyakini, ustad itu merupakan pemimpin spiritual kelompok JI.

Ba’asyir yang menolak semua dakwaan terhadapnya, dan sebelumnya menuding para jaksa sebagai antek-antek musuh Islam, akan mengajukan banding dan mengimbau para pendukungnya agar tetap tenang.

Para pejabat menghubungkan JI dengan jaringan Al Qaedah yang dipimpin Usamah bin Ladin, kelompok yang disebut-sebut oleh Washington sebagai pelaku serangan kamikaze 11 September 2001 di Amerika Serikat.

Para penyidik juga mengaitkan JI dengan serangan bom Bali pada Oktober lalu yang menewaskan 202 orang – termasuk 88 warga Australia – dan aksi bom mobil di Hotel JW Marriott Jakarta yang menewaskan 12 orang, 5 Agustus lalu.

Ba’asyir membantah keberadaan JI dan mengatakan dia tidak tahu apa pun tentang serangan bom di Bali. Dia tidak didakwa melakukan kejahatan yang berkaitan dengan pengeboman-pengeboman tersebut.(F4,rtr-ben-30j)

Tiga Kesalahan Menurut Hakim

– Turut serta melakukan tindak pidana makar dengan maksud untuk menggulingkan pemerintah.

– Membuat surat palsu.

– Masuk-keluar wilayah Indonesia tanpa melalui pemeriksaan pejabat imigrasi.

3 Maret 2005 : Ustadz Ba’asyir dinyatakan bersalah atas konspirasi serangan bom 2002 (Bom Bali), tetapi tidak bersalah atas tuduhan terkait dengan bom 2003 (Bom JW Mariott). Dia divonis 2,6 tahun penjara. Konspirasi macam apa yang dinyatakan bersalah?

Berikut berita tentang konspirasi serangan Bom Bali (http://majalah.tempointeraktif.com/id/arsip/2005/03/07/HK/mbm.20050307.HK106348.id.html)

Fakta yang tak bisa dielakkan, menurut hakim, adalah sepotong dialog Utomo Pamungkas alias Mubarok dan Amrozi dengan Ba’asyir, Agustus 2002. Saat itu Mubarok dan Amrozi mengundang Ba’asyir menghadiri acara pernikahan Ustad Hajir sekaligus mengisi khotbah Jumat di Lamongan, Jawa Timur. Di ruang tamu rumah Ba’asyir, Amrozi kemudian meminta izin: “Bagaimana kalau kawan-kawan mengadakan acara di Bali?” Ba’asyir lantas menjawab: “Terserah pada kalian, karena kalian yang tahu situasi lapangan.”

Menurut majelis, perbuatan ketiganya adalah permufakatan jahat. Sebab, setelah izin Ba’asyir itu, “tidak ada kegiatan lain yang dilakukan Utomo Pamungkas dan Amrozi selain menyiapkan peledakan bom di Bali, tanpa diselingi oleh perbuatan lain,” kata hakim ketua, Soedarto. Selain itu, menurut hakim, sepatutnya Ba’asyir tahu bahwa kawan-kawan yang dimaksudkan Amrozi, di antaranya Mukhlas dan Ali Imron, sudah mendapat pelatihan merakit bom. “Dengan demikian, unsur kesengajaan dengan kemungkinan terbukti,” Soedarto menambahkan.

Meskipun Utomo Pamungkas dan Amrozi tak bersaksi di persidangan (afidavit), keterangan dalam berkas keduanya dianggap sah oleh hakim karena mereka sudah disumpah ketika diberkas. Ba’asyir memang menolak keterangan keduanya, namun hal itu cuma jadi pertimbangan hakim. “Bantahan terdakwa dinilai wajar,” ujar para hakim dalam putusannya.

Putusan hakim ini jelas mengecewakan pembela Ba’asyir. “Putusan hakim tidak konsisten. Bagaimana mungkin dialog dari saksi yang tidak diperiksa di persidangan bisa dijadikan bukti?” kata M. Assegaf, pengacara ustad Ba’asyir. “Dialog itu abstrak. Bagaimana bisa jadi bukti persidangan,” Assegaf menambahkan. Ia menuduh putusan hakim semata karena rikuh dengan polisi yang sudah menangkap dan menahan Ba’asyir. Juga adanya intervensi dari luar negeri. “Itu bisa dirasakan, tapi sulit dibuktikan,” ujar Assegaf, menjelaskan bukti intervensi yang ia maksudkan.

Berikut rekam perkara putusan pengadilan 3 Maret 2005 (http://www.kapanlagi.com/h/0000053368.html)

Tak Bersalah, Ba’asyir Tetap Divonis 2,5 Tahun

Kapanlagi.com – Majelis Hakim sidang kasus tindak pidana terorisme menyatakan bahwa terdakwa Ba`asyir tak terbukti bersalah atas dakwaan pertama yang diajukan oleh JPU terkait peledakan bom yang dilakukan di hotel JW Marriott. Hal itu terungkap dalam persidangan di Departemen Pertanian.
Mejelis hakim yang diketuai oleh Sudarto SH menyatakan Ba`asyir tak terbukti melakukan tindak pidana menggerakan dan atau merencanakan tindak pidana terorisme seperti yang dituduhkan pada dakwaan pertama primer.

Sedangkan dakwaan pertama subsider dengan unsur melakukan, menyuruh atau turut serta melakukan pemboman di Hotel JW rriott pada 5 Agustus 2003 tidak terbukti. “Tidak ada bukti yang menyatakan bahwa terdakwa menyuruh atau memberi perintah pelaku pemboman JW Marriott.”

Mengenai buku Pupji (Pedoman Umum Perjuangan Jamaah Islamiyah) dan makalah yang dibuat Ba`asyir dengan judul sistem kaderisasi MMI bahkan informasi mengenai kehadiran Ba`asyir di kamp Hudhaibiyah pada April 2000 untuk acara wisuda hakim menyatakan tidak ada hubungannya dengan pemboman JW Marriott.

Mengenai dakwan pertama lebih subsidair dengan unsur melakukan, menggunakan kekerasan atau membujuk orang melakukan tindak pidana terorisme juga dinyatakan tidak terbukti. Menurut hakim, tidak ada keterangan saksi pelaku bom JW Marriott yang menyatakan bahwa Ba`asyir membujuk mereka melakukan pemboman.

Selain itu sebelum dan sesudah pemboman selama kurang lebih satu tahun, Ba`asyir sedang berada dalam tahanan. Sedangkan mengenai dakwan pertama lebih lebih subsidair dengan unsur permufakatan jahat, percobaan dan pembantuan untuk melkukan tindak pidana terorisme juga dinyatakan tidak terbukti.

“Tidak ada bukti kata sepakat antara pelaku dan terdakwa,” kata Sudarto. Dakwaan pertama lebih lebih subsidair lagi tentang pemberian bantuan kemudahan dengan menyembunyikan informasi tindak pidana terorisme pun dinyatakan tidak terbukti karena tidak ada satu saksi pun yang membuktikan adanya informasi pengeboman yang diketahui terdakwa.

Meski demikian ia tetap dijatuhi hukuman dua setengah tahun karena konspirasi bom Bali 2002. Untuk putusan ini, Bashir menyatakan banding. Sementara itu, para pendukung Bashir juga melakukan protes setelah hukuman dijatuhkan. Ba’asyir pernah diadili sebelumnya, namun dibebaskan karena kurangnya bukti bahwa ia adalah pemimpin kelompok militan Jemaah Islamyah (JI).

Namun, ia dipenjara karena pelanggaran imigrasi. Polisi menahannya kembali bulan April 2004, begitu ia dibebaskan, dengan menyatakan ada bukti baru yang mengkaitkannya dengan JI. Namun para hakim harus memutuskan apakah bukti yang ada cukup untuk menjatuhkan hukuman kepadanya.

Intervensi AS

Selama pengadilannya, ia terus menyanggah semua dakwaan yang mengkaitkannya dengan JI, kelompok yang disebutkan berhubungan dengan al-Qaeda. Ia juga menekankan tidak terlibat dalam pemboman Bali 2002 atau serangan Hotel Marriott 2003. Kedua serangan ini disebutkan merupakan tindakan JI.

Ia mengatakan mendukung jihad, dan menurutnya pembom salah melakukan serangan di Indonesia karena Indonesia bukanlah negara yang sedang perang. Jumat lalu, Ba’asyir menggunakan peluang terakhir untuk mengajukan pembelaan dan ia mengulang tuduhannya bahwa ia diadili karena ada tekanan dari AS.

“Bila panel hakim tahu dakwaan penuntut merupakan upaya mewujudkan keinginan AS, hakim tidak boleh ragu ragu untuk menolak dakwaan untuk menghindari konsekuensi di akhirat,” katanya.(*/tut)

Bagaimana dengan penahanan yang kali ini? Apakah memang Ustadz ABB benar2 terlibat terorisme, ataukah hanya sebagai target demi memuaskan pihak Asing, sebagaimana yg disinyalir pihak Ustadz ABB? Wallahu a’lam. Semoga keadilan bisa benar2 ditegakkan (meskipun melihat carut-marutnya kepolisian-kejaksaan-kehakiman, saya sangat pesimis keadilan bisa tegak)

3 thoughts on “Seputar Penahanan Ustad Abu Bakar Baasyir (ABB)

  1. Saksikanlah Ya Allah, Islam benar2 dlm keterpurukan dibawah tipu daya musuh2 Engkau.. Ya Tuhan Kami, rayulah hamba-hambaMu untuk bersatu.
    Satukanlah hati kami orang muslim sekalipun hanya bersenjatakan batu dan airmata. Iskariman au mujtahidan.

  2. Ping-balik: Mengkritisi Novel Nasir Abbas ‘Kutemukan Makna Jihad’ « Saif Al Irhaby

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s