Kangen Band, di balik pro dan kontra

Barusan saya pergi ke Kab Pesawaran, salah satu Kabupaten baru hasil pemekaran di Propinsi Lampung (Undang-undang No. 33 Tahun 2007). Pekerjaan saya sebagai programmer free-lance memang menuntut untuk sering-sering ke luar kota, kalau masih mau dapur terus mengepul.

Di sana, saya kebetulan dapat tugas dari saya sendiri (hehehe.. namanya juga free-lance, jadinya gak punya atasan) untuk men-training operator2 komputer supaya dapat menjalankan software SIAK (Sistem Informasi Administrasi Kependudukan). Kebetulan software SIAKnya kami yang develop. Salah satu di antara peserta operator, inisialnya AHR asal dari Pringsewu Lampung, konon kabarnya, adalah mantan anggota Kangen Band. Semua teman2nya manggil dirinya ‘Kangen Band’. Bahkan seorang temanku yg satu tim sesama programmer sempat pingin mengajak foto-foto bareng, tapi batal. (Norak nggak ya?)

Berhubung saya lumayan kuper dalam hal permusikan tanah air, tentu saja saya nggak kenal siapa itu kangen band. Kata temen saya, kangen band itu kelompok band lokal dari Lampung, yg kualitas musiknya kurang begitu bagus, namun terkenal dan sering masuk di TV. Terus terang saya saat itu penasaran dengan band yg satu ini.

Sepulang saya ke Jogja, langsung nyari di internet deh.. Ternyata informasinya lebih dramatis dari yg saya bayangkan. Banyak cemoohan dari mereka2 yang merasa lebih senior dan lebih hebat dari kangen band. Antara lain, dari #$%#@#. Saya nyari2 mp3-nya, dan kebetulan dapat yg lagu “selingkuh”. Terus terang, kualitas liriknya lumayan parah. Kalau dari sisi musikalitas, saya kurang paham. Kaget juga saya pertama kali dengar lirik lagunya. Namun setelah saya coba bandingkan juga dengan grup lain, misalnya #$%#@# dan @#!@$^, ternyata saya dapati kualitas liriknya nggak jauh beda dg kangen band. Jika kangen band kurang bermutu karena memang band kampung, mestinya #$%#@# yg anaknya orang terkenal dan jelas lebih berpendidikan, mestinya bisa membuat lirik yg lebih bagus.

Akhirnya saya ambil kesimpulan sendiri, bahwa kangen band banyak mendapat cemooh, karena mereka adalah grup kampung. Kualitas studio rekamannya juga kurang bagus, sehingga tidak mampu memoles suara mereka, sehingga tampil “apa adanya”.

Lepas dari kontroversi itu semua, saya lihat si AHR, dia operator komputer yg handal, lho. Saya promosikan dia sebagai leader bagi teman2nya sesama operator. Saya lihat, dia nggak ngiri sama teman2nya yg sudah sukses, dan tetap semangat sebagai operator komputer. Itu yg saya salut. Kalau biasanya bawa keyboard, sekarang bawa keyboard dan mouse (hehehe.. b’canda).

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s