Ghibah dan Zaskia Mecca

Akhir-akhir ini berkembang ghibah yang menimpa Zaskia Mecca, perihal sesuatu yang seharusnya tidak menjadi konsumsi publik, karena melakukan sesuatu yang sebenarnya menurut saya bukan tindakan yg diharamkan, meskipun dalam adat kesopanan hal itu dirasa kurang sopan dilakukan perempuan. Terus terang, saya prihatin dengan kondisi ini, meskipun saya nggak terlalu tahu tentang mbak Zaskia (tapi, kayaknya banyak yg mengidolakannya, terutama sejak film AAC).

Harapan saya, tolong foto-foto yang tidak seharusnya menjadi konsumsi publik, dihapus. Toh tidak ada gunanya. Lebih baik bandwidth dan space yg ada dimanfaatkan untuk hal-hal lain yg lebih bermanfaat. Yg saya tahu, ghibah adalah perbuatan yg SANGAT berdosa dan busuk, bagaikan makan bangkai saudara sendiri. Hiii…

Saya teringat kisah Sahabat Nabi (saya lupa namanya.. maaf), yang dikatakan Rasulullah sebagai calon penghuni Surga. Salah seorang Sahabat penasaran dengan statement ini. Ia lalu minta ijin untuk menginap di rumah Sahabat tersebut.

Tiga hari berlalu, dan dia mendapati bahwa Si Sahabat calon penghuni Surga itu tidak terlalu istimewa ibadahnya. Sholat malamnya juga jarang. Dzikir dan kegiatan ibadah lainnya juga biasa2 aja. Penasaran, ia lalu bertanya kepadanya, apa gerangan keistimewaannya sehingga dikabarkan Nabi bakal menghuni Surga.

Dia menjawab, bahwa ia paling ogah menyakiti saudaranya sesama muslim, baik dengan perbuatan, ucapan (kalo jaman sekarang + tulisan), maupun mendoakan yg buruk bagi saudaranya. Demikian, ternyata kebajikan sosial mendapat perhatian yang sangat penting dalam ajaran Islam.

Semoga bermanfaat. Stop ghibah. Stop infotainment.

Iklan

Dhuwite Dijaluk Kabeh

Iki pengalamanku (pengalamane anakku) sing dak kirim menyang Majalah Panjebar Semangat, lan kasil dimuat ing edhisi 49 Tahun 2003 kepungkur.

Aku duwe anak lanang aran Didin. Umure lagi 4 taun kurang. Nalika Didin dikongkon ibune tuku lenga tanah seliter, dheweke digawani dhuwit pas, Rp 1.100,-. Dheweke langsung budhal nginclig menyang warung sebelah.

Mulihe, dheweke crita menyang ibune, “Ma, mau dhuwitku dijaluk kabeh, Iho, karo bakule …” ngono clathune. Ibune mung ngguyu wae. Lha iya, wong dhuwite pas kok ya mesthine dijaluk kabeh.

Sesuke, tanggaku sing duwe warung crita marang bojoku (ibune Didin). Cekake, wingi Didin tuku minyak seliter. Dhuwite sing 100 diwenehke, dene sing sewu panggah dicekel kenceng. Merga kurang, sing sewu dijaluk karo bakule. E .. Didin clathu ngene marang bakule, “Buk, dhuwite kuwi engko arep dienggo Mama tuku tahu nyang pasar. Aja dijaluk kabeh …” Dijawab bakule, “Mengko Mamamu yen nyang pasar ben njaluk Bapak dhuwit meneh ya?” ngono karo ngerih-erih anakku.

Bojoku dicritani ngono langsung ngguyu kemekelen Ian njaluk ngapura marang tanggaku. Layak kok wingi Didin crita yen dhuwite dijaluk kabeh, ngono batine bojoku. Aku mulih kerja dicritani bojoku, langsung sak omah dadi gergeran. Dhasar nalare bocah cilik. (Mufti Aziz Ahmad-Sleman)

Terjemahan Bebas : Saya punya anak laki-laki, usia 4 tahun kurang (saat itu), namanya Didin. Suatu hari, Didin disuruh ibunya untuk beli minyak tanah di warung sebelah rumah 1 liter. Ia diberi uang pas, Rp 1.100 (saat itu masih murah, ya?). Langsung saja Didin berangkat ke warung.

Beberapa saat kemudian, Didin pulang ke rumah. Dia bilang ke ibunya, “Ma, tadi uangku semua diambil sama penjualnya lho…”, begitu katanya. Ibunya hanya tersenyum saja. Tentu saja semua diminta, memang uangnya pas kok.

Keesokan harinya, tetangga saya yg punya warung sebelah cerita pada istri saya. Ceritanya, kemarin Didin beli minyak 1 liter. Uangnya yg 100 diberikan, sementara yg 1000 tetap dipegang erat. Karena uangnya kurang, yg 1000 diminta oleh penjualnya. E.. Didin ngomong begini sama penjualnya, “Bu, uang ini nanti mau dipakai Mama beli tahu di pasar. Jangan diminta semua …” Penjualnya menjawab, “Nanti kalau Mamamu pergi ke pasar, biar minta lagi sama Bapak. Ya?” katanya sambil membujuk anak saya.

Mendengar cerita itu, istri saya langsung tertawa dan minta maaf kepada tetangga sebelah tersebut. Pantas, kemarin Didin bilang kalau uangnya semua diminta, pikir istri saya. Sepulang kerja, saya diberitahu oleh istri saya kejadian tersebut. Langsung kami tertawa atas kelucuan itu. Namanya juga anak kecil. Ada-ada saja.. Hehehe..

Sholat Pakai Kaos

Seringkali saya melihat laki-laki sholat pakai kaos, baik T-Shirt atau Kaos Polo. Sebenarnya saya juga tidak berpendapat bahwa sholat mesti pakai jubah, namun cukuplah menutup aurat dan sopan.

Masalahnya, kalau pakai kaos seringkali tidak bisa menutup aurat. Pada saat berdiri, mungkin masih menutup aurat. Tapi saat lagi ruku’ atau (terutama saat) sujud, pantatnya (maaf) kelihatan.

Kurang lebih 4 minggu yang lalu, saya Jum’atan di masjid UII Jl Cik Di Tiro. Persis di depan saya seorang bapak-bapak yang sudah paruh baya, sholat jum’at pakai kaos. Sayangnya, kaos tidak dimasukkan, dan juga tidak mengenakan kaos dalam. Pas sujud, seperti yg sudah saya perkirakan, sebagian anggota tubuhnya bagian belakangnya kelihatan. Kesalahan yg sepele, namun kok rasanya cukup fatal.

Ingin saya menegurnya. Hal itu membuat saya kurang khusyu saat sholat. Namun selesai sholat, saya menunggu2 kesempatan, eh.. ternyata dzikirnya lama betul. Ya sudah, karena saya sudah selesai berdzikir, saya langsung pergi dari situ tanpa sempat memberitahunya.

Akhirnya, kesempatan yg bisa saya peroleh adalah lewat blog ini. Saudara2ku seiman, kalau lagi sholat dan terpaksa pakai kaos, tolong masukkan ujung kaos ke celana panjang/ sarung, supaya nggak mudah ketarik waktu sujud. Atau paling tidak, kaos dalamnya yg dimasukkan ke celana panjang/ sarung.

Kangen Band, di balik pro dan kontra

Barusan saya pergi ke Kab Pesawaran, salah satu Kabupaten baru hasil pemekaran di Propinsi Lampung (Undang-undang No. 33 Tahun 2007). Pekerjaan saya sebagai programmer free-lance memang menuntut untuk sering-sering ke luar kota, kalau masih mau dapur terus mengepul.

Di sana, saya kebetulan dapat tugas dari saya sendiri (hehehe.. namanya juga free-lance, jadinya gak punya atasan) untuk men-training operator2 komputer supaya dapat menjalankan software SIAK (Sistem Informasi Administrasi Kependudukan). Kebetulan software SIAKnya kami yang develop. Salah satu di antara peserta operator, inisialnya AHR asal dari Pringsewu Lampung, konon kabarnya, adalah mantan anggota Kangen Band. Semua teman2nya manggil dirinya ‘Kangen Band’. Bahkan seorang temanku yg satu tim sesama programmer sempat pingin mengajak foto-foto bareng, tapi batal. (Norak nggak ya?)

Berhubung saya lumayan kuper dalam hal permusikan tanah air, tentu saja saya nggak kenal siapa itu kangen band. Kata temen saya, kangen band itu kelompok band lokal dari Lampung, yg kualitas musiknya kurang begitu bagus, namun terkenal dan sering masuk di TV. Terus terang saya saat itu penasaran dengan band yg satu ini.

Sepulang saya ke Jogja, langsung nyari di internet deh.. Ternyata informasinya lebih dramatis dari yg saya bayangkan. Banyak cemoohan dari mereka2 yang merasa lebih senior dan lebih hebat dari kangen band. Antara lain, dari #$%#@#. Saya nyari2 mp3-nya, dan kebetulan dapat yg lagu “selingkuh”. Terus terang, kualitas liriknya lumayan parah. Kalau dari sisi musikalitas, saya kurang paham. Kaget juga saya pertama kali dengar lirik lagunya. Namun setelah saya coba bandingkan juga dengan grup lain, misalnya #$%#@# dan @#!@$^, ternyata saya dapati kualitas liriknya nggak jauh beda dg kangen band. Jika kangen band kurang bermutu karena memang band kampung, mestinya #$%#@# yg anaknya orang terkenal dan jelas lebih berpendidikan, mestinya bisa membuat lirik yg lebih bagus.

Akhirnya saya ambil kesimpulan sendiri, bahwa kangen band banyak mendapat cemooh, karena mereka adalah grup kampung. Kualitas studio rekamannya juga kurang bagus, sehingga tidak mampu memoles suara mereka, sehingga tampil “apa adanya”.

Lepas dari kontroversi itu semua, saya lihat si AHR, dia operator komputer yg handal, lho. Saya promosikan dia sebagai leader bagi teman2nya sesama operator. Saya lihat, dia nggak ngiri sama teman2nya yg sudah sukses, dan tetap semangat sebagai operator komputer. Itu yg saya salut. Kalau biasanya bawa keyboard, sekarang bawa keyboard dan mouse (hehehe.. b’canda).

Situs FFI (Faith Freedom International)

Pindahan dari http://azizahmad.wordpress.com .. tanggal 6 Juni 2007

Tadi sempat lihat2 ke website http://www.indonesia.faithfreedom.org – Faith Freedom International (FFI).

Membayangkan namanya, semula saya berharap akan menemukan diskusi-diskusi ilmiah yang sehat, dengan saling beradu argumen. Bukankah diskusi dilakukan dalam rangka mencari kebenaran? Artinya kedua pihak bersedia menerima argumen2 yang dikemukakan lawannya jika ternyata argumen itu logis, atau mematahkan argumen tersebut dengan ilmiah.

Harapan saya sama sekali patah. Sama sekali nggak saya temukan diskusi ilmiah, melainkan debat kusir yang kampungan dan jorok.

Juga, semestinya diskusi faith-freedom dilakukan dengan berimbang, meninggalkan prasangka2, stigma2, maupun stereotip2 kelompok faith tertentu. Tapi yang saya temukan ternyata HANYA anti-Islam. Mestinya alamat URL-nya diganti http://www.anti-islam.org atau yang lain yang lebih pas dengan isinya. Vulgar banget kebencian yang mereka tampakkan kepada Islam.

Kalo saya sendiri males nanggapi debat seperti itu. Capek, buang2 tenaga, waktu, dan pikiran. Toh yang mereka cari bukan kebenaran, melainkan hanya sekedar melampiaskan kekesalan dan kebencian mereka pada Islam. Mungkin mereka pernah disakiti oleh tetangganya atau kerabatnya yang Islam, jadinya kebawa2 jadi benci Islam.

Jauh lebih enak kalo diskusi dengan orang orientalis – barat. Ilmu mereka tentang Islam luas, namun kebanyakan mereka masih MAU dan MAMPU berfikir. Kalo pertanyaan2 dan argumen2 mereka bisa kita jawab (meskipun itu sangat sulit, karena kaum orientalis biasanya benar2 paham tentang Islam), mereka akan mengakui kebenaran.

Mengikuti debat ini, diam-diam, saya jadi merinding ngeri. Di Indonesia yang mereka minoritas saja, mereka berani berbuat seperti itu. Apalagi kalo mereka mayoritas?? Mungkinkah bakal terjadi tragedi inkuisisi spanyol versi Indonesia? Di jaman modern begini?

NaudzubiLlah.

Selamat Datang di Catatan Pojok

Ahlan wa sahlan.. Welcome.. Youkoso Irassyaimase.. Selamat Datang.. Sugeng Rawuh..

Silakan menikmati posting-posting yang ada (kalo sudah ada). Maaf kalau saya termasuk makhluk yang jarang mengupdate blog, karena saya memang bukan seorang blogger yang baik. Kalau sempat, baru saya nulis.

Please, leave me your comments. Go-kansou o kaite kudasai. Mohon isi buku tamunya. OK.

Best Regards,

Mufti Aziz Ahmad