Apakah Islam Liberal Memiliki Ushul Fiqih?

Sekedar copas tulisan Ustadz Siddiq al-Jawi. Sumber ada di situs : http://www.khilafah1924.org/index.php?option=com_content&task=view&id=76&Itemid=47

Bagi yg merasa seideologi dengan ISLIB, silakan dikomentari. Yg setuju dg tulisan ini, juga silakan komentar :)

Cek selengkapnya bro..

USUL FIQH ISLAM LIBERAL?

Sunday, 04 September 2005
oleh M. Shiddiq al-Jawi

Rencana asal dari Majalah al-Wa’ei, edisi 56. Disunting dan dikembang kembali beberapa bahagian oleh Mohd Jakfar bin Hj Embek, Ketua Jabatan Dakwah, Latihan & Pembangunan Organisasi PERGAS. Akhir-akhir ini wujud semacam keghairahan dikalangan cerdik pandai, pengkaji-pengkaji badan “think thank” dan pembuat polisi samada dari kalangan Islam maupun bukan Islam untuk membuka semula dialog keislaman atas nama wacana ilmiah (intellectual discourse) atau ijtihad intelektual.

Dari sudut positifnya dialog keIslaman di era pos-911, membuka banyak ruang interaksi di media-media cetak seperti akhbar-akhbar utama, majalah-majalah antarabangsa dan juga wacana-wacana ilmiah di pusat-pusat pemikir (think thank) dan pengajian tinggi. Tetapi dalam masa yang sama dari sudut negatifnya pula membuka semacam kecelaruan berfikir para pembentang wacana disamping meruntuh asas-asas metodologi ilmiah para ‘ulama Islam.

Kedudukan dan status kerjaya orang yang diundang bercakap seolah-olah menjadi kekebalan kebenaran apa yang disampaikan daripada nilai kebenaran ilmiah itu sendiri. Wujud semacam kecelaruan semantik pada penggunaan istilah “ijtihad” menyamakan nya dengan pendapat rasional yang tiada bertepi lalu meruntuh prinsip asas metodologi ilmiah Islam. Ijtihad para ulama Islam mempunyai asas-asas sandaran metodologi ilmiah (usul) yang dibenarkan, berlainan dari pandangan bebas sesetengah pemikir yang asas bingkai mindanya dari falsafah kebebasan manusia atau hermeneutika.

Imam alGhazali menyentuh hal ini dalam bukunya Tahafut alFalasifah (Kerancuan Pemikiran Para Falsafah). Begitu juga disahkan oleh pemikir barat abad ini yang telah menganut Islam, Roger Garudy dalam bukunya The Balance Sheet of Western Philosophy. Dari sudut sejarah aliran pemikiran liberal (rasionalis) ia bukan baru, bahkan telah wujud sejak awal dari zaman Imam alGhazali (450H – 1059H). Malah pada zaman Imam Abu Hanifah (80H – 150H) lagi, beliau pernah berdebat dengan golongan rasionalis, begitu juga dengan imam-imam ‘Asyari dan alMaturidi hingga lahirnya ilmu kalam.

Baca entri selengkapnya »

Situs FFI (Faith Freedom International)

Pindahan dari http://azizahmad.wordpress.com .. tanggal 6 Juni 2007

Tadi sempat lihat2 ke website http://www.indonesia.faithfreedom.org – Faith Freedom International (FFI).

Membayangkan namanya, semula saya berharap akan menemukan diskusi-diskusi ilmiah yang sehat, dengan saling beradu argumen. Bukankah diskusi dilakukan dalam rangka mencari kebenaran? Artinya kedua pihak bersedia menerima argumen2 yang dikemukakan lawannya jika ternyata argumen itu logis, atau mematahkan argumen tersebut dengan ilmiah.

Harapan saya sama sekali patah. Sama sekali nggak saya temukan diskusi ilmiah, melainkan debat kusir yang kampungan dan jorok.

Juga, semestinya diskusi faith-freedom dilakukan dengan berimbang, meninggalkan prasangka2, stigma2, maupun stereotip2 kelompok faith tertentu. Tapi yang saya temukan ternyata HANYA anti-Islam. Mestinya alamat URL-nya diganti http://www.anti-islam.org atau yang lain yang lebih pas dengan isinya. Vulgar banget kebencian yang mereka tampakkan kepada Islam.

Debat yang ada terbagi menjadi 2 kubu (seperti biasa), pihak Islam dan pihak anti-Islam. Sama-sama orang Indonesia.

Alhamdulillah, yang pihak Islam masih terlihat santun dan berargumen dengan baik (meskipun lama2 terpancing dan mulai mem-bego2-kan lawannya, hehehe :D ). Satu per satu pertanyaan dijawab dengan baik.

Alhamdulillah juga, pihak anti-Islam terlihat sangat buruk dalam berdebat, mengulang2 pertanyaan yang sudah dijawab, benar2 memperlihatkan ciri khas yang penuh kedengkian dan kebodohan. Nggak terstruktur, nggak ilmiah, ngomong jorok, misuh2, etc-lah, sesuai kapasitas IQ, EQ dan SQ mereka.

Namun, apapun yang diuraikan oleh pihak Islam, sama sekali nggak menyentuh mereka. Karena memang sejak awal, mereka berdebat BUKAN untuk mencari kebenaran. Misalnya, ngajak debat tentang gerakan2 shalat, padahal mereka nggak tau shalat itu seperti apa. Mereka menduga2, bahwa gerakan2 shalat itu diambil dari kebiasaan kaum pagan. etc-etc..

Kalo saya sendiri males nanggapi debat seperti itu. Capek, buang2 tenaga, waktu, dan pikiran. Toh yang mereka cari bukan kebenaran, melainkan hanya sekedar melampiaskan kekesalan dan kebencian mereka pada Islam. Mungkin mereka pernah disakiti oleh tetangganya atau kerabatnya yang Islam, jadinya kebawa2 jadi benci Islam. Ngga nalar, kan?

Jauh lebih enak kalo diskusi dengan orang orientalis – barat. Ilmu mereka tentang Islam luas, namun kebanyakan mereka masih MAU dan MAMPU berfikir. Kalo pertanyaan2 dan argumen2 mereka bisa kita jawab (meskipun itu sangat sulit, karena kaum orientalis biasanya benar2 paham tentang Islam), mereka akan mengakui kebenaran.

Mengikuti debat ini, diam-diam, saya jadi merinding ngeri. Di Indonesia yang mereka minoritas saja, mereka berani berbuat seperti itu. Apalagi kalo mereka mayoritas?? Mungkinkah bakal terjadi tragedi inkuisisi spanyol versi Indonesia? Di jaman modern begini?

NaudzubiLlah.

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.