Seorang lelaki berjalan mondar-mandir di lorong rumah sakit bersalin, gelisah akan keadaan isterinya yang akan melahirkan anak sulung mereka. Setelah beberapa jam ia menunggu, tak jua terdengar tangisan bayi. Tiba-tiba, seorang dokter berjalan tergopoh-gopoh keluar dari ruang persalinan menuju ke arahnya.
“Bagaimana keadaannya dokter?” tanyanya penuh harap.
“Maaf pak, kami sudah berusaha, keadaannya amat kritis. Si ibu sudah
tak sadarkan diri! ” jawab dokter itu.
“Jadi bagaimana dokter..?”
“Kami tak mampu menjanjikan untuk menyelamatkan keduanya, si ibu dan bayinya. Tapi saya kira masih ada harapan, kami memiliki satu pilihan, menyelamatkan si ibu, atau menyelamatkan si bayi!”Lelaki tersebut kebingungan, dan tak dapat berkata-kata.
“Maaf pak, setiap saat amat berharga, tolong cepat untuk membuat
pilihan!” desak dokter itu.Akhirnya, dengan berat hati lelaki itupun berkata dengan nada sayu,
“Dokter, saya sangat bingung .. Saya serahkan sepenuhnya kepada dokter. Tolong lakukan yang terbaik!” pintanya.Dokter pun bergegas kembali ke ruang persalinan. Nampaknya dia sudah
berpengalaman menangani masalah darurat atau kritis seperti ini. Dan dia sudah tahu apa yang harus dilakukannya.
Pada ilustrasi di atas akan ditunjukkan, bagaimana keyakinan agama akan mempengaruhi keputusan di saat genting.
Bagi seorang dokter beragama Nasrani, ia akan berusaha menyelamatkan si anak, dan mengorbankan si ibu.
Bagi dokter Muslim, ia akan berusaha menyelamatkan si ibu, dan mengorbankan si bayi.
Benar, dua-duanya adalah pilihan yang sukar, tapi itulah jalan terakhir yang akan dipilih si Dokter.
Mengapa demikian?
Dalam ajaran Nasrani, setiap manusia yang lahir sudah membawa dosa. Doktrin ini dikenal dengan sebutan “dosa waris” atau “dosa asal”. Manusia yang lahir sudah menanggung dosa Nabi Adam dan Hawa. Untuk menebusnya ia harus mengikuti seorang penyelamat yakni penebus dosa (Pendeta, Uskup, Romo, dll).
Dokter Nasrani akan berjuang sekuat usaha untuk menyelamatkan si anak, agar dia dapat lahir dengan sehat dan selamat walaupun terpaksa mengorbankan si ibu. Dokter berharap, setelah anak itu lahir ia akan mendapat kesempatan untuk dibaptiskan, untuk tujuan menebus dosanya. Jika si anak meninggal sebelum dibaptiskan, anak itu akan masuk neraka. Sebab, dosanya belum sempat ditebus.
Dalam ajaran Islam, setiap manusia lahir dalam keadaan fitrah/suci. Dokter muslim akan berjuang menyelamatkan si ibu, kerana dia tidak bimbang tentang si bayi akan masuk neraka. Dengan terselamatnya si ibu, insya Allah setelah sehat kembali akan dikurniai kekuatan untuk mengandung lagi dan mudah-mudahan mendapatkan ganti yang lebih baik, yang lebih soleh.
Sedangkan anak yang tak sempat diselamatkan, biarlah ia kembali kepada Allah dalam keadaan suci. Mungkin lebih baik sekiranya bayi itu tidak dilahirkan di dunia yang penuh tipu daya ini agar hidupnya kelak tidak menjadi orang yang tersesat.
Demikianlah, dalam keadaan serba salah, lelaki itu tak sempat untuk
memastikan agama si dokter tadi. Dan ia sudah berserah sepenuhnya kepada dokter itu.
Di dunia ini ada banyak agama dan kepercayaan. Pemahaman kita terhadap ajaran agama yang kita anut, lebih pokok lagi, keyakinan kita terhadap ideologi yang kita anut, akan menentukan jalan hidup kita.
Itu sebabnya amat penting bagi kita orang Islam menentukan yang bakal menolong kelahiran anak kita adalah seorang doktor Muslim.
Lebih umum lagi, sejak bangun tidur, kita sudah dihadapkan kepada pilihan-pilihan.
1. Meneruskan tidur, atau bangun sholat subuh?
2. Untuk makan siang dahulu, atau sholat zhuhur dahulu?
3. Ikut terlibat melakukan “korupsi berjamaah” di kantor, atau dimusuhi dan dikucilkan rekan sekerja?
4. Hidup mulia di sisi Allah, atau mulia dalam pandangan manusia?
5. Dan masih banyak lagi…
Kita akan sering dihadapkan pada pilihan-pilihan yang sukar dan dilematis. Yang jelas, semua pilihan kita bakal ditimbang dan mendapat kadar pahala atau dosa di akhirat nanti, tanpa ada yang terlewat.
Semoga bermanfaat.
Terjemahan bebas dari Forum Gempak.org
http://www.gempak.org/forum/sembang-artikel/30804-antara-doktor-kristian-doktor-islam.html




brianmay berkata,
26 Desember 2010 pada 06:29
bagus maju terus untuk agama islam………
q bangga menjadi agam islam…
yang penuh makna dengan kebersihan dan kebenaran…
trima kasih ya Allah…
engkau memberiku jalan menuju kebenaran..
amin ya robbal alamin
nichi berkata,
26 Januari 2011 pada 13:40
Terimakasih untuk tulisannya..akan sangat arif bila Anda tidak membandingkan agama satu dengan lainnya. Agama adalah masalah yang sangat sensitif, dan Anda menulisnya di ruang publik,bukan ruang privat.
Dan, apakah Anda benar2 yakin Semua Dokter Nasrani akan melakukan seperti hal di atas? Mengutip dari sebuah buku karya Pramudya “harus adil sejak dalam pikiran”..
Semoga tanggapan saya ini dapat menjadi sebuah pertimbangan bagi Anda agar lebih bijak lagi dalam menulis.
Mufti Aziz Ahmad berkata,
28 Januari 2011 pada 07:53
Terima kasih atas tanggapan dan kritiknya.
Saya men-share tulisan ini, tanpa bermaksud menjelek-jelekkan agama tertentu, hanya menunjukkan, bagaimana agama seseorang membentuk perilaku dan keputusan yang dia ambil. dan ini sangat wajar, mengingat agama adalah tuntunan hidup bagi seseorang.
Sekali lagi saya ucapkan terima kasih.
Salam,