Blog pindah Alamat

Terima kasih kepada WordPress yang telah menampung Blog ini selama lebih dari 2 tahun (meskipun jarang nulis :D )..
Blog Catatan Pojok telah memiliki alamat baru, di http://muftiaziz.javabeanku.com. Silakan kunjungi blog baru saya.
Artikel2 yg ada di sini juga sdh mulai saya pindah ke sana. Tak lupa saya ucapkan terima kasih atas kunjungannya.

Kisah Burung yang Sehat & Burung yang Cacat

Syaqiiq al-Balkhi adalah teman Ibrahim bin Adham yang dikenal ahli ibadah, zuhud dan tinggi tawakalnya kepada Allah. Hingga pernah sampai pada tataran enggan untuk bekerja.

Penasaran dengan keadaan temannya, Ibrahim bin Adham bertanya, “Apa sebenamya yang menyebabkan Anda bisa seperti ini?”

Syaqiiq menjawab, “Ketika saya sedang dalam perjalanan di padang yang tandus, saya melihat seekor burung yang patah kedua sayapnya. Lalu saya berkata dalam hati, aku ingin tahu, dari mana burung itu mendapatkan rizki.

Maka aku duduk memperhatikannya dari jarak yang dekat. Tiba-tiba datanglah seekor burung yang membawa makanan di paruhnya. Burung itu mendekatkan makanan ke paruh burung yang patah kedua sayapnya untuk menyuapinya.

Maka saya berkata dalam hati, “Dzat yang mengilhami burung sehat untuk menyantuni burung yang patah kedua sayapnya di tempat yang sepi ini pastilah berkuasa untuk memberiku rejeki di manapun aku berada.”

Maka sejak itu, aku putuskan untuk berhenti bekerja dan aku menyibukkan diriku dengan ibadah kepada Allah.

Mendengar penuturan Syaqiiq tersebut Ibrahim berkata, “Wahai Syaqiiq, mengapa kamu serupakan dirimu dengan burung yang cacat itu? Mengapa Anda tidak berusaha menjadi burung sehat yang memberi makan burung yang sakit itu? Bukankah itu lebih utama?

Bukankah Nabi bersabda, “Tangan di atas lebih baik daripada tangan di bawah?”

Sudah selayaknya bagi seorang mukmin memilih derajat yang paling tinggi dalam segala urusannya, sehingga dia bisa mencapai derajat orang yang berbakti”

Syaqiiq tersentak dengan pernyataan Ibrahim dan ia menyadari kekeliruannya dalam mengambil pelajaran. Serta merta diraihnya tangan Ibrahim dan dia cium tangan itu sambil berkata, “Sungguh. Anda adalah ustadzku, wahai Abu Ishaq (Ibrahim).”

(Tarikh Dimasyqi, Ibnu Asakir)

Sumber : ar-risalah No. 112 / Vol. X / 04 Syawal – Dzhulqa’dah 1431 H / Oktober 2010

Semoga bermanfaat..

Antara Dokter Muslim dan Dokter Nasrani

Seorang lelaki berjalan mondar-mandir di lorong rumah sakit bersalin, gelisah akan keadaan isterinya yang akan melahirkan anak sulung mereka. Setelah beberapa jam ia menunggu, tak jua terdengar tangisan bayi. Tiba-tiba, seorang dokter berjalan tergopoh-gopoh keluar dari ruang persalinan menuju ke arahnya.

“Bagaimana keadaannya dokter?” tanyanya penuh harap.
“Maaf pak, kami sudah berusaha, keadaannya amat kritis. Si ibu sudah
tak sadarkan diri! ” jawab dokter itu.
“Jadi bagaimana dokter..?”
“Kami tak mampu menjanjikan untuk menyelamatkan keduanya, si ibu dan bayinya. Tapi saya kira masih ada harapan, kami memiliki satu pilihan, menyelamatkan si ibu, atau menyelamatkan si bayi!”

Lelaki tersebut kebingungan, dan tak dapat berkata-kata.

“Maaf pak, setiap saat amat berharga, tolong cepat untuk membuat
pilihan!” desak dokter itu.

Akhirnya, dengan berat hati lelaki itupun berkata dengan nada sayu,
“Dokter, saya sangat bingung .. Saya serahkan sepenuhnya kepada dokter. Tolong lakukan yang terbaik!” pintanya.

Dokter pun bergegas kembali ke ruang persalinan. Nampaknya dia sudah
berpengalaman menangani masalah darurat atau kritis seperti ini. Dan dia sudah tahu apa yang harus dilakukannya.

Baca entri selengkapnya »

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.